1> Sejarah Berdirinya Pura

Keberadaan Pura Aditya Jaya Rawamangun tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan umat Hindu DKI Jakarta yang menginginkan memiliki tempat persembahyangan bagi umat Hindu DKI Jakarta dirintis sejak tahun lima puluhan oleh Yayasan Pitha Maha, namun baru sekitar tahun enam puluhan memperoleh respon. Bapak Presiden Soekarno memberikan Umat Hindu tanah di Lapangan Banteng, namun karena suatu hal Pura gagal dibangun. Tahun 1962 ditawarkan tanah yang baru diurug di Ancol umat merasa keberatan kemudian ditawarkan lokasi di tanah bekas Yakindra juga mengalami kendala, akhirnya diberikan tanah di MT Haryono sampai saat ini belum jelas keberadaannya.

Pada tahun tujuh pulahan Bapak I Gusti Ngurah Mandra, SH (alm) yang mendapat kepercayaan menjadi Tim Kontraktor yang menangani projek jalan Jakarta-Cirebon dari Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, dengan pimpinan proyek bapak Ir. Iman Soekoto (alm). Dalam kesempatan itulah Bapak I Gusti Ngurah Mandra mengajukan ide kepada pimpro untuk menyumbangkan tanah bekas perbekalan yang saat itu kosong untuk tempat ibadah (pura) bagi umat Hindu di Jakarta, dan usaha ini diterima dengan baik oleh beliau asalkan dibentuk panitia terlebih dahulu dengan susunannya sebagai berikut:

  • Ketua Umum : I Gusti Ngurah Mandra (alm)
  • Ketua I : I Nyoman Geria (alm)
  • Ketua II : I Gusti Ketut Sukarta (alm)
  • Sekretaris I : Drs. Sang Made Jingga
  • Sekretaris II : AA Sumitra (alm)
  • Bendahara I : Ir. Ketut Berana (alm)
  • Bendahara II : I Wayan Arniata

Panitia yang telah terbentuk mengajukan permohonan kepada pimpinan proyek yang kemudian  menunjuk dan mengesahkan panitia tersebut untuk melaksanakan pembangunan Pura.

Peletakan batu pertama pembangunan Pura Aditya Jaya oleh bapak Drs. Moh. Hadi (alm) yang mewakili pimpinan proyek pada tahun 1972. Kemudian pembangunan physik dimulai dengan membuat Padmasana. Agar tidak banyak gangguan yang muncul dan  mensukseskan pembangunan Pura, Pimpinan proyek menyarankan untuk mencantumkan nama Kolonel Baron Sunardi (Kepala Bagian Perbekalan) dan Mayor CPM Soenoto (alm) saat itu belaiau sebagai kepala Bagian Keamanan Proyek Kopelprojaya. Selain Padmasana, juga dibangun Anglurah, Taman Sari, Bale Pewedan, Penyengker dan Kori Agungnya. Pada tanggal 12 Mei 1973 dilaksanakan peresmian Pura oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Bapak Ir. Prayogo dan Ngeteg Linggih dipuput oleh Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen (alm).

Pada tahun 1976 Menteri PUTL (Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik) Bapak Ir. Sutami (alm) memberikan surat dengan nomor : 36/KPTS/1976 yang berisi tentang :

  1. Pemberian ijin kepada Parisada Hindu Dharma untuk menggunakan tanah yang dikuasai oleh Departemen Pekerjaan Umum cq Ditjen Bina Marga sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu DKI Jakarta dan sekitarnya;
  2. Penggunaan tanah sesuai dengan aturan Tata Kota DKI Jaya;
  3. Keputusan ini berlaku sebagai pengetahuan atas penggunaan tanah tersebut yang telah dibuat oleh Ditjen Bina Marga berlaku sejak tanggal 04 Maret 1072.

Pemberian ijin oleh Menteri Pekerjaan Umum tersebut didukung oleh Gubernur DKI Jakarta bapak Ali Sadikin (alm) yang dimuat dalam surat Keputusan No. D.TV-a2/4/24/73, yang dijadikan dasar pembangunan Pura Aditya Jaya. Pembangunan Pura terus mengalami perkembangan dari yang belum permanen menjadi permanen, dari yang belum ada menjadi ada, hingga saat ini kondisi physik pembangunan Pura mengalami kemajuan yang sangat pesat menyesuaikan kebutuhan umat.

Pembangunan Pura diklasifikasikakn sebagai berikut:

  • Tahap pertama ntahun 1972 dibangun Padmasana, Gria Pedanda (belum permanen), Anglurah, wantilan di jaba tengah (sangat sederhana berupa bedeng)
  • Tahap kedua tahun 1976 membangun kori agung, penyengker jeroan dengan tembok sederhana, renovasi wantilan jaba tengah, taman sari dan lain-lain dalam wujud yang sederhana.
  • Tahap ketiga tahun 1985 memulai pembangunan wantilan besar di jaba sisi (belum selesai)
  • Tahap keempat tahun 1988, melanjutkan pembangunan Wantilan besar, Bale Kulkul, Candi Bentar disebelah bale kulkul. Gria Pedanda (permanen) Bale Bengong disebelah Griya.
  • Tahap kelima tahun 1991-1995 renovasi dan membangun Wantilan permanen di jaba tengah, membangun ruang peseraman dan ruang kuliah disebelah wantilan jaba sisi, penataan taman pemasangan konblock di areal pura yaitu di jaba tengah dan jaba sisi, pemagaran luar.
  • Tahap ke enam tahun 1996 membuat jalan aspal, candi bentar di jaba sisi menghadap ke jalan by pass, candi bentar menghadap ke jalan Daksinapati Raya, renovasi penyengker Utama Mandala.
  • Tahap ketujuh tahun 1997 membangun penyengker di jaba sisi menghadap ke jalan by pass.
  • Tahap kedelapan tahun 1999-2006 membangun kantin dan Gedung Dharma Sevanam oleh Yayasam Dharma Savanam Indonesia yang diketuai oleh Drs. I Nyoman Astawa, MSi atas sumbangan Dirjen Bimas Hindu. Penataan ulang tata ruang dan membangun/ memindahkan Griya, membangun kios canang, toilet, perpustakaan terbuka, taman dengan Jineng dan bale bengong dijaba sisi, pengaspalan seluruh Kanisthama Mandala sebelah barat.
  • Tahun 2017 dilakukan pembetonan jalan dari pintu masuk jalan daksinapati hingga di depan pasraman, peningkatan jalan ini selain karena sudah rusak juga dapat menghindari luapan air dari saluran akibat hujan/banjir.
  • Tahun 2018 mulai dibangun wantilan dengan merenovasi bangunan lama yang sudah tidak layak lagi dipergunakan oleh umat melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan.

 

Tentang Pura | Sejarah Pura | Kondisi Pura | Struktur Pura | Pujawali | Hari Besar Keagamaan