Maturan Canang

Leluhur Bali mewariskan tradisi maturan Canang pada Purnama, Segehan pada Tilem dan Kajeng Kliwon, dan maturan Ngejot di keseharian.

Mpu Sangkulputih yang meneruskan pengabdian Danghyang Rsi Markandeya di pura Besakih, mengartikan Canang sebagai inti dari persembahan pada Purnama.

Canang berasal dari kata Can yang berarti indah, sedangkan Nang berarti tujuan atau maksud (bahasa Kawi/Jawa Kuno), Sari berarti inti atau sumber.

Penyatuan sederhana dalam konsep Sivasiddhanta terwujud indah dalam Canang Sari; Daun, rangkaian kembang rampai dan porosan adalah simbol dari Tarung / Tedung dari Ong Kara (isi dari Tri Bhuwana / Tri Loka, Bhur-Bwah-Swah).

Canang Sari atau kerap disebut Canang Genten, memakai alas yang berupa ceper atau yang berupa reringgitan, disusun dengan plawa(daun), Porosan yang berupa sedah berisi apuh dan jambe diikat dengan tali porosan, dirangkai indah di wewangian bunga dan pandan arum yang bermakna penyatuan pikiran yang suci, sujud bhakti kehadapan Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Brahma Wisnu dan Ciwa.

Menghaturkan canang sari bermakna untuk memohon kekuatan Widya kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa (manifestasi) Nya sekala dan niskala.

Rangkaian dan makna dari Canang sari:

  1. Canang memakai alas berupa Ceper (berbentuk segi empat) dari daun atau janur, mewakili Angga Sarira (badan) yang memohon kekuatan keteduhan Ardha Candra (Bulan).

  2. Porosan, yang terbuat dari daun sirih, buah pinang dan kapur melambangkan Tri Premana, terdiri dari pikiran, pengucapan dan prilaku, manifestasi dari Tri Murti; Ciwa, Wisnu dan Brahma. Menyiratkan persembahan seyogyanya dihaturkan dari hati yang welas asih serta tulus kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa Nya, senantiasa mensyukuri anugrah dan karunia Nya.

  3. Seiris tebu, pisang dan sepotong jaja (kue); menyimbulkan kekuatan Wiswa Ongkara (Angka 3 aksara Bali) dalam kehidupan alam semesta

  4. Sampian Urasari yang berbentuk bundar sebagai dasar untuk menempatkan bunga, bermakna menghadirkan kekuatan Windhu (Matahari). Berhiaskan panah pada ujungnya, bermakna kekuatan Nadha (Bintang).

  5. Penataan bunga berdasarkan warnanya di atas Sampian Urasari dirangkai dengan etika dan tattwa, menyesuaikan pengider-ideran (tempat) Panca Dewata, menyiratkan kedamaian dan kesejahteraan.

Dirangkai sebagaimana urutan Purwa/Murwa Daksina, diawali dari arah Timur ke Selatan.

Bunga berwarna Putih di Purwa

Mendoakan kedamaian dan kesucian di Timur, stananya Dewi Umasya dan Dewa Iswara, memohon Tirta  Sanjiwani, terberkati menjadi manusia yang sehat, dermawan dan sejahtera, sekala dan niskala

Bunga berwarna Merah di Daksina

Mendoakan kedamaian dan kesucian di Selatan, stananya Dewi Saraswati dan Dewa Brahma, memohon Tirta Kamandalu, terberkati menjadi manusia yang teguh, pradnya dan cerdas, sekala dan niskala.

Bunga berwarna Kuning di Pascima

Mendoakan kedamaian dan kesucian di Barat, stananya Dewi Saci dan Dewa Mahadewa, memohon Tirta Kundalini, terberkati menjadi manusia yang tekun dalam tapa, brata, dan memiliki budi pekerti yang luhur sekala dan niskala

Bunga berwarna Hitam di Uttara

Mendoakan kedamaian dan kesucian di Utara, stananya. Dewi Sri dan Dewa Wisnu, memohon Tirta Pawitra, terberkati menjadi manusia yang berkelakuan benar, suci laksananya, sehat lahir batin dan senantiasa menyebarkan kedamaian sekala dan niskala.

Pandan Harum di Pancer

Mendoakan kedamaian di Tengah, stananya Dewi Parwati dan Dewa Siwa, memohon Tirta Maha Mertha, terberkati ketenangan jiwa, pengendalian diri dalam kehidupan yang merdeka lahir dan batin, sekala dan niskala.

Betapa indahnya bila sedapat mungkin bahan untuk persembahan canang ini kita dapatkan dari halaman kebun rumah kita.

Renungkan di kedamaian ketika burung burung singgah di halaman dan berkicau merdu mengucapkan terimakasihnya…

Renungkan di keindahan ketika bunga bunga yang bertumbuh di halaman dan berseri mewangi membisikkan lirih sukmanya.

Sumber: dari sebuah Group WA

Admin