Makna Hari Raya Saraswati

SARASWATI:
Sapta Sindhu, Sapta Gangga, dan Sapta Ongkara
Oleh : I.B. Putu Suamba

Hari suci Saraswati disucikan oleh umat Hindu di seluruh dunia. Umat Hindu di India dan sekitarnya melakukan Saraswati Puja setahun sekali, yaitu pada hari kelima. setelah bulan purnama (Panchami Tithi) dan disebut Sukia Pancami pada bulan Magha (Januari-Februari). Hari ini jüga lebih dikenal secara meluas sebagai Vasanta Panchami. Tetapi pada beberapa daerah di India, Saraswati Puja dilaksanakan pada Sukla Paksa bulan Asvina (September-Oktober) dan biasanya dilaksanakan pada Austami Tithi dalam bulan tsb. Sementara di Indonesia Saraswati Puja dilakukan setiap enam bulan atau 210 hari sekali menurut sistem kalender wuku, kalender Jawa Bali, yaitu pada Saniscara Umanis Watugunung. Serangkaian upacara dilaksanakan baik pra maupun pasca Hari Suci Saraswati ini. Yang perlu juga mendapat perhatian adalah Saraswati Puja dilaksanakan hari terakhir (Saniscara) dan wuku terakhir, Watugunung.

Tradisi pemujaan Saraswati sebagai dewi melambangkan ilmu pengetahuan sudah berlangsung sejak dulu kala, sejak orang-orang Arya melahirkan peradaban Weda di India jauh sebelum permulaan tarikh Masehi. Hal ini mencerminkan betapa umat Hindu sangat menghargai ilmu pengetahuan di dalam menjalani hidupnya. Hidup terasa gelap tanpa ilmu pengetahuan. Hidup akan terasa terang, bercahaya, terarah, dan lebih mudah dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu kita semestinya memaknai Puja Saraswati yang datang setiap entam bulan sekali dengan penuh kesucian dan kesadaran diri. Pemaknaan itu selanjutnya dapat diimplementasikan di dalam kehidupan sehari-hari bahwa di dalam upaya mencapai purusa artha diperlukan pengetahuan (jnana) baik apara widya dan para widya.

Tulisan pendek ini dimaksudkan untuk pendalaman makna Saraswati Puja. Dari sini diharapkan kesadaran diri semakin tumbuh betapa ilmu pengetahuan tersebut memegang peranan yang sangat penting di dalam kehidupan. Pengetahuan yang selanjutnya melahirkan sains dan teknologi hendaknya dikembangkan di dalam bingkai nilai-nilai Saraswati, sehingga teknologi tersebut bermanfaat di dalam pendakian rohani umat Hindu. Teknologi bukannya menjerumuskan, namun dapat mempermulia, mengangkat kehidupan manusia ketingkat yang lebih baik. Pemaknaan tersebut tidak hanya bersifat ritual, namun di balik itu adanya semangat membelajarkan diri, menempa diri agar secara berangsur-angsur ada peningkatan kualitas sang diri dan hidup yang menderita ke hidup yang lebih berbahagia di dalam sinar ilmu pengetahuan (widya).

Saraswati sebagai Sungai
Menurut Yaska dalam karyanya Nirukta ‘saraswati’ mempunyai dua makna. Pertama bermakna ‘sungai’ dan kedua ‘dewi’. “Saraswati iti etasya nadi bad dewatabchha nigami bhavanti”. Sementara Sayana dalam Rigbhasa menyatakan “dvididha hi Sarasvati vigrahavat devata nadirupa cha”. [(Saraswati bermakna ‘danau yang berlimpah’ (saras).] Rg-Weda juga menyatakan hal yang sama. Kedua makna ini secara umum dipegang oleh para sarjana di dalam mengungkap misteri sungai Saraswati.

Saraswati disebut juga Brahma, Sarada, Putkari, dan Wagiswari. Saraswati kekuatan feminim Brahma, sementara Gangga kekuatan feminim Siwa. Secara tradisi sungai Saraswati juga dikenal dengan nama Sarsuti. Secara mitologi keberadaan sungai-sungai ini disebutkan di dalam kitab-kitab purana.

Misteri yang masih menyelimuti sejarah peradaban Weda adalah transformasi dewi sungai Saraswati menjadi dewi pasca Weda, yaitu dewi kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan. Terhadap masalah ini beragam pendapat pernah dilontarkan oleh para peneliti di bidang Idologi. Dewi Saraswati Iebil-i menonjol dipuja sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan dan pada sebagai Dewi Sungai yang memberikan anugrah kesuburan. Namun jika dicermati kepustakaan Weda, eksistensi Saraswati sebagai sungai banyak disebutkan bahkan di antara sungai-sungai Saraswati dianggap yang paling utama (nadi tame). Saraswati sebuah sungai tidak lagi diragukan.

Ambitame naditame devitame Sarasvati
Aprasastra ivasniasi prasastim amba nas krdhi
(Rg-Weda, 2.41.16).
[O Ibu terbaik, o sungai terbaik, o dewi terbaik, Saraswati, (kami merasakan) seolah-olah tidak diberikan perhatian, mohon anugrahkan kami dengan kernasyuran, o ibu].

Nama ‘Saraswati’ muncul di dalam sejumlah kesusastraan Weda : Rg Weda 10, 64, 9 menyebutkan sungai Saraswati, Sarayu, Sindhu; 10, 75, 5; 3; 23,4; Taittiriya Aranyaka 10, 1, 13 Gangga, Yamuna, Saraswati, Sutudri; Maha Narayana Upanisad 141. Dalam Atharva Weda Samhita Resensi Pippalada 20, 29, 5 ia dipanggil bersama-sama dengan sungai-sungai secara umum. Rg-Weda 1, 3, 12 (Vajasaneyi Samhita 20, 86) menguraikan dia sebagai banjir yang dahsyat (maho arnah)’. Atharva Weda Samhita Resensi Saunaka 6,41,2 sebagai yang menjangkau jauh dan luas (uruvyaca). Rg-Weda 2, 41, 16) dia sebagai sungai, ibu, dan dewi.
Rg-Weda mengagungkan dengan himne:
Ayatsakam yasaco vavasanah Saraswati saptathi sindhumata
Yah susvayanta sudughah sudhara abhiswena payasa pipyanah
(Saraswati mengalir untuk masa tua. Air alirannya nampak seperti kain putih dirajut dengan benang reputasinya. Ia adalah sungai dan ibu dan enam sungai. Airnya dikatakan sebagai penuh dengan susu bagi anak-anaknya tanahnya. Ia sangat bahagia dengan aliran arusnya).
Terdapat empat poin di dalam kutipan di atas:

  1. Pengagungan Saraswati telah ada bahkan sebelum pelafalan ayat Weda di atas dibuat untuk memujanya.
  2. Ia adalah aliran sungai ketujuh dan ibu dan enam sungai. Sebagian besar sarjana    Weda setuju dengan keberadaan ketujuh sungai berikut, yaitu (1) Sultej, (2) Rawi, (3) Chinab, (4) Hjelum, (5) Vyas dan (6) Sindhu (Indu) yang, pada wilayah-wilayah tepinya peradaban sungai Sindhu berkembáng. “Saptathi” berarti yang yang ketujuh di atas mana Saraswati itu sendiri berada.
  3. Sungai Saraswati mempunyai cukup air untuk mengaliri sungai-sungai lain seperti seorang ibu memberikan susu kehidupan kepada anak-anaknya.
  4. ‘Sindhumata’ berarti ibu dan sungai. Di sini Sindhu (Indu) tidak mempunyai makna sungai Sindhu (Indu). Saraswati dan Sindhu merupakan dua sungai yang berbeda dan mereka telah ada jauh sebelum himne-himne Rg-Weda disusun.

Eksistensi sungai Saraswati terekam di dalam dokumen spiritual bangsa Arya, yaitu Weda hingga Purana, Mahabharata dan Ramayana, Rsi-rsi RgWeda seperti Grtsamada, Bhargawan dan Saunaka memuja Saraswati sebagai ibu tertinggi, sungai terbesar dan dewi di antara para dewi. Namun sekarang secara fisik sungai Saraswati tidak ada lagi. Memudarnya atau hilangnya aliran sungai ini diperkirakan karena evolusi alam. Pergeseran lapisan bumi, gempa bumi selama ribuan tahun menyebabkan aliran sungai ini tertimbun oleh lapisan-lapisan sehingga tidak bisa dikenali lagi. Ada juga percaya lenyapnya sungai ini karena alasan-alasan mitologis.

Upaya-upaya menggali dan mengidentifikasi aliran sungai ini tengah diusahakan. Penelitian-penelitian yang mendalam terhadap sungai ini telah dan sedang dilakukan. Secara tradisional sungai Saraswati bertemu dalam sebuah sanggam atau campuhan di Prayaga (Allahabad). Di sini tiga sungai bertemu, yaitu Saraswati, Gangga dan Yamuna. Titik pertemuan ini dikenal dengan Sanggam Tri Weni. Tempat ini dipandang sangat suci, tempat umat Hindu melakukan upacara penyucian diri Kumbha Mela setiap tahun. Setiap 12 tahun sekali disebut Maha Kumbha Mela. Jutaan umat Hindu dan seluruh India dan dunia datang ke sini untuk melakukan tirtha yatra, penyucian lahir bathin. Secara fisik mereka mandi dan melakukan pemujaan dan ada juga yang menemui guru-guru spiritualnya minta anugrah dan pencerahan-pencerahan rohani.

Sapta Sindhu dan Sapta Saraswati
Bharata (India) dikenal juga dengan nadi martrika, karena dialiri oleh sungai-sungai sehingga tanahnya subur. Bharata juga dikenal dengan sebutan deva martrika, karena tanahnya mendapat cukup curah hujan. Kondisi alam yang subur dengan hutan, gunung, danau, lahan pertanian yang luas memungkinkan lahirnya pikiran-pikiran besar di bidang agama, filsafat, kesenian, kebudayaan, teknologi, dan sebagainya. Peradaban besar India lahir dan pemukiman dekat dengan air. Weda dan kesusastraan Weda diperkirakan lahir di sekitar lembah-lembah sungai, seperti sungai Sindhu. Dapat dikatakan peradaban Weda pada intinya adalah peradaban yang lahir atau mendapat inspinasi dan air (apah). Konsep ini kemudian dijabarkan ke dalam benbagai bentuk fisik maupun non fisik membentuk kebudayaan Hindu baik di India maupun di Indonesia.

Di dalam kitab suci Weda disebutkan sungai-sungai penting. ‘Sapta Sindhya’ berarti ‘tujuh sungai’. Ketujuh sungai tersebut adalah Gangga, Yamuna, Godavari, Saraswati, Narniada, Sindhu dan Kaveri. Dengan demikian mereka disebut Sapta Sindhu. Bumi pertiwi India disebut juga dengan “Sapta Sindhu”, karena dialiri oleh sungai. Di dalam Mahabharata tujuh sungai disebut dalam satu tempat Vaswokasara, Nalini, Pavani, Gangga, Sita, Sindhu dan Jambu-nadi; dan tempat lain disebutkan Gangga, Yamuna, Plakshaga, Rathastha, Saryu (Sarju), Gomati dan Gandaki (Gandak).

Di dalam Ramayana dan kitab-kitab purana tujuh sungai adalah tujuh aliran-aliran yang lebih kecil ke dalam mana Gangga terbagi setelah jatuh dan rambut Siwa: Nalini, Hiadini, dan Pavani mengalir ke Timur, Chakshu, Sita, dan Sindhu mengalir ke Barat, sementara Gangga atau disebut juga Bhagirathi mengalir ke Selatan. Jika diamati ada perbedaan nama-nama dalam Sapta Sindhu tersebut.
“Sindhu” disini lebih banyak danau, lahan pertanian memungkinkan lahimya pikiran-pikiran besar di bidang agama, filsafat, kesenian, kebudayaan, teknologi, dan sebagainya. Peradaban besar India lahir dan pemukiman dekat dengan air. Weda dan kesusastraan Weda diperkirakan lahir di sekitar lembah-lembah sungai, seperti sungai Sindhu. ‘Sindhu’ di sini lebih banyak bermakna sungai. Para rsi memuja ketujuh sungai tersebut.
Gange ca Yamune caiva Godawari Saraswati
            Narmade Sindhu Kaveri jalesmin sanndhim kuru.
[Oh Gangga dan Yamuna, Godawari dan Saraswati, of  Narmada, Sindhu dan Kaweri, bersemayam di dalam air ini (dengan mana aku mandi).
Berapa rc di dalam Rg-Weda sebagai sumber yang mengacu kepada keberadaan Saraswati:
Yaste stanah Sasyo yo mayobhuyemma visva pushyasi
Varyani yo ratnadha vasuvidyah sudatrah
sarasvati tamiha dhatave kah (Rg-Weda 1. 164. 49). [Oh Saraswati anugrahilah  susu kehidupanmu untuk kehidupan di sini yang ada di dalam tubuhmu, yang menaburkan kebahagiaan yang engkau berikan kepada (mereka yang memujamu) dengan semua bendabenda terpilih, ia yang memegang semua benda-benda indah, yang mengetahui kekayaan musuh dan yang menawarkan hadiah-hadiah baik].
Pavaku nah Sarasvati vajebhirvajini-vati Yajnam vasthu dhiyavasuh (Rg-Weda  1.3.10). [Mudah-mudahan Dewi Saraswati menjadi penyuci, mudah-mudahan ia yang memiliki makanan menganugrahkan kepada kami, yang memiliki kekayaan mudah-mudahan menginginkan yajna].
Codayitri sunrtanam cetani sumatinam Yajnam dadle saraswati (Rg-Weda 1.3.13). [Saraswati memberikan inspirasi perbuatan baik dan pikiran baik memegang yajna].
Maho arnah Saraswati pra cetayati ketuna Dhiyo visva vi rajati (Rg-Weda 1.13.12). [Saraswati dikenal, melalui gerakan air yang maha besar. Semoga doa pujaan memancarkan cahaya sangat banyak]
Sarasvati tvamasmam aviddhi marutvati jeshi Satrun
Tyam cicchardhantam tavishiyamanamindro hanti
Vrshabham Sandikanam (Rg-Weda 2.30.8).
[Oh Sarasvati engkau melindangi kami. Engkau yang dihubungkan dengan para Marut, yang merupakan petarung agung menakiukan musuh-musuh kami. Indra membunuh para Shandika yang kuat yang terkenal yang membenci kami].
Vivasema Iyam sush mebhirvisaka ivarujat sanu girinam tavashebhirurmibhih
Paratva taghnimavase survrktibhih Sarasvatima dhitibhih (Rg-Weda 6.61.2). [Saraswati menghancurkan puncakpuncak gunung dengan arus gelombangnya yang kuat seperti begitu gampangnya menghancurkan kembang-kembang. Kami mengagungkan dia sebagai penghancur gunung-gunung dan memujanya dengan pengabdian yang agung demi perlindungan kami].
Ekacetat Sarasvati nadinam suciryati giribhya a samudrat (Rg-Weda, 7.95.2) [Sarasvati saja yang memiliki vitalitas di antara sungai-sungai dan ia yang paling suci mengalir dari gunung-gunung menuju laut.
Imam me gange yamune sarasvati Satudri stomam Sacata parushnya
Asikanya marudvrdhe citastayarjikiye Srnutdya Sushomaya (Rg-Weda
10.75.5). [Oh Gangga, Yamuna, Sarsvati, Satudri dengan Parshi, Marudvridhan dengan Asikini; Arjikiya dengan Visastra dan Sushnoma mendengar doa mu.
Ayat sakam yasaso vavasnah sarasvati sap tathi sindhumata.
Yah sushvayanta sudughah sudhara abhisvena payasa pip yanah (Rg-Weda
7. 36.6). [Mudah-mudahan (sungai) ketujuh, Sarasvati, ibu sungai Sindhu dan sungai-sungai yang mengalir deras dan menyuburkan memberikan makanan berlimpah, dan memberikan makanan (kepada orang-orang) dengan air mereka, datang pada suatu saat bersama-sama].

Sementara orang-orang Arya menyebar ke seluruh penjuru India. Mereka secara pelan dan pasti menyebar ke lima aliran sungai (disebut Panchananda Pradesh) hingga ke pinggir sungai Saraswati. Mereka menemukan tujuh sungai, yaitu Surenu di Haridwar, Supraba di Puskar, Vimaloda di Himalaya, Oghavati di Kuruksetra, Kanchamakshmi di Naimisarya, Manomara di Kosala dan Visala di Gaya. Sungai-sungai ini dikenal dengan nama Sapta Saraswati, sebuah nama yang diberikan oleh orang-orang Arya. Maka, sekarang seluruh wilayah yang didiami oleh bangsa Arya disebut dengan Sapta Sindu dan Sapta Saraswati.

Sapta Sindhu dan Sapta Saraswati merupakan tempat cikal bakal peradaban India berkembang hingga sekarang. Peradaban ini dikembangkan di atas nilai-nilai logika dan spiritualitas.
Di sepanjang aliran-aliran sungai ini banyak ada titik penting untuk melakukan tirta yatra. Di sepanjang sungai ini bermukim orang-orang suci dengan murid-muridnya. Mereka membangun tradisi Weda di sini
Di sepanjang aliran-aliran sungai ini banyak ada titik penting untuk melakukan tirta yatra. Di sepanjang sungai ini bermukim orang-orang suci dengan murid-muridnya. Mereka membangun tradisi Weda di sini. *WHD No. 498 Juni 2008.