Gedung Graha Yadnya

Gedung Graha Yadnya yang terletak ditepi pantai Cilincing bersebelahan dengan Pura Segara, kini keberadaannya sudah sering dimanfaatkan oleh umat Hindu di Jabodetabek dan sekitarnya  untuk melakukan upacara pitra yadnya antara lain Upacara Nyilib, Titib di Geni, Ngaben, Nyekah dll.

Latar Belakang

Umat Hindu bila mendapatkan kedukaan, ada keluarga yang meninggal tidak bisa langsung di kremasi, oleh karena perlu persiapan untuk membuat sarana upacara/banten dan juga menunggu sanak famili/keluarga. Disamping itu ada hari-hari tertentu yang tidak diperkenankan untuk dilaksanakan krmasi seperti hari Pasah, Semut Seduhur, dan hari Rerahinan upacara-upacara besar.

Oleh karena itu jenazah harus menginap 2 (dua) sampai 7 (tujuh) hari, belum lagi umat Hindu yang tidak mampu tinggal dirumah kontrakan sehingga sangat sulit untuk mengadakan upacara, serta tinggal di masyarakat yang disekitarnya non Hindu, dimana jenazah tidak boleh tinggal dirumah lebih dari 1×24 Jam.

Sehubungan dengan hal tersebut maka dengan kesepakatan bersama Parisada DKI Suka Duka Hindu Dharma Jakarta dan seluruh Banjar se- DKI Jakarta dan sekitarnya untuk membangun Graha Yadnya.

GRAHA YADNYA

Graha Yadnya sangat membantu seluruh Umat Hindu khususnya di Jakarta dan sekitarnya serta Umat Hindu di daerah pada umumnya dalam melaksanakan upacara pitra yadnya terutama bagi umat yang mengalami kedukaan akan langsung diselesaikan dalam satu tempat sehingga sangat meringankan umat dalam pelaksanaannya.

Fungsi Graha Yadnya

Sebagai tempat persenayaman jenazah/rumah singgah, pembakaran jenazah/kremasi, tempat pembuatan banten, tempat Upacara seperti:

  • Sawa Wedana, yaitu proses upacara jenazah sebelum dikremasi, yaitu membersihkan tempat kremasi dengan air suci dari pura dalem baru dilaksanakan pembakaran yang dipimpin oleh Pandita/Pinandita yang bermakna mengembalikan panca maha bhuta ke asalnya (tanah, air api, udara, akasa)
  • Asti wedana yaitu proses abu jenazah, sampai dirarung ke laut, upacara ini dikenal sebagai sebutan “Ngaben”. Diawalai dengan proses jenazah abu, diberikan tirta, air suci dari kawitan dan juga dari dewa siwa (sang pencipta, dan pralina/pelebur)

Abu tersebut dimasukan dalam nyuh/kelapa gading dan rangkaiannya sebagai ista/tempat yang telah dikremasi disebut Puspalingga/sekah (puspa-bunga -lingga=tempat) dituntun doa oleh Pinandita.

Pandita menutun, mengucapkan mantra-mantra/ doa tujuannya agar atman berjalan lancar menuju asalnya. Proses berikutnya memohon kepada Hyang Widhi Wasa sentana/keluarga yang masih hidup diberkahi keselamatan.

Puspa Lingga/sekah sebagai ista/tempat Sang Atman dirarung kelaut, sehingga unsur panca maha buta dan keterikatan dengan duniawi sudah putus dan memasuki dunia Niskala (dunia yang tidak terlihat tapi ada.

  • ¬†Atma Wedana, yaitu proses upacara pitra yadnya agar atma tersebut mendapatkan jalannya sesuai dengan karmanya untuk menyatu ke Hyang Widhi Wasa.

Atma yang sudah dirarung kelaut Atmanya di upacarai kembali. Untuk upacara berikutnya/ngulapin dan mengambil tempat khusus bukan ditempat pembakaran.

Tempat tersebut terlebih dahulu dibersihkan diadakan mecaru, untuk menetralisir kekuatan negatif agar tidak mengganggu ketika kita mengadakan proses upacara tersebut.

Pandita mempuja memberikan doa-doa kepada Sang Atma agar atma berjalan lancar menyatu dengan Sang Pencipta

Selesai upacara tersebut, Puspa Lingga/Sekah, keluarga semuanya sembahyang ke Pura memohon kepada Hyang Widhi aar Sang Atma sesuai dengan karmanya dapat menyatu dengan Sang Pencipta, dan keluarga yang ditinggal mendapatkan keelamatan, panjang umur dan sejahtera.