Hidup Ini Berenang di Lautan Madu dan Racun

Amrtam caiva mrtyusca dvayan dehe pratistitam.
Mrtyurapadyate mohat satyenapadayat’mrtam.
(Sarasamuscaya 28).

Maksudnya: Tak berjauhan madu (amrta) dan racun (bisa), di badan manusialah letaknya. Jika manusia bodoh atau avidya dengan hati yang gelap dan gemar melaksanakan adharma maka hidup pun bagaikan berenang di lautan racun. Kalau kokoh berketetapan hati hidup berpegang pada kasatyan dan dharma maka hidup ini bagaikan berenang di lautan amrta atau madu.

Semua ciptaan Tuhan kena hukum Rwa Bhineda. Tidak ada yang mutlak jelek dan mutlak baik. Apakah yang ada di dalam diri mansia atau bhuwana alit maupun yang ada di alam semesta atau bhuwana agung. Manusia sebagai ciptaan Tuhan sudah diberikan widya dan wiweka yaitu ilmu pengetahuan dan kemampuan untuk menganalisis.

Dalam pustaka suci Weda ada ajaran Karmasiksana atau pengetahuan untuk mendidik dan melatih mengendalikan perilaku agar menuju Ayuning Sila dan Ayuning Acara. Artinya, berperilaku dan memperbaiki kebiasaan hidup agar semakin benar, baik, tepat dan wajar. Weda juga mengandung Satsila yaitu petunjuk untuk berperilaku di jalan yang satya atau kebenaran Weda. Weda juga mengajarkan manusia agar segala kemampuan positif yang berhasil diperoleh itu untuk mencintai tumpah darah kelahiranya dalam wujud pengabdian pada tumpah darah kelahirannya atau Desa Abhimana. Itulah lima hal garis besar ajaran yang terdapat dalam pustaka suci Weda. Hal itu sebagai penjabaran secara umum Sanatana Dharma, intisari Weda yang merupakan kebenaran yang kekal abadi. Dalam pengamalannya lima isi Weda itu dikemas dengan adat istiadat yang Nutana. Artinya adat istiadat itu terus diperbaharui agar selalu muda dan segar.

Mereka yang mau mendalami dan melatih diri dengan konsep Weda akan hidup bagaikan berenang di lautan madu yang disebut Amrta. Amerta artinya hidup tenang indah bahagia dan sejahtera. Hidup seperti itu bukan berarti hidup serba wah, glamor bergelimang kemewahan materi yang bernuansa hedonistis. Hidup yang berpegang pada ajaran Weda untuk membangun kecintaan pada Tuhan atau Dewa Abhimana dengan tekun melakukan sraddha dan bhakti pada Tuhan dengan manifestasinya. Dharma Abhimana cinta pada kebenaran dengan menaatinya dalam pengamalan hidup sehari-hari. Selanjutnya Desa Abhimana cinta pada tanah air kelahiran. Cinta pada tanah air kelahiran itu dilakukan melalui pengabdian pada nasib sesama dan menjaga kelestarian lingkungan alam. Hidup seperti itu akan senantiasa hidup sehat atau Swastya Wahini, berilmu pengetahuan atau Widya Wahini dan peduli pada nasib sesama dan lingkungan alam yang diisebut Praja Wahini. Hidup dengan konsep Weda itulah hidup yang disebut mendapatkan anugrah Amrta yaitu manis dan indahnya kehidupan bagaikan hidup di lautan madu. Mereka mampu mendayagunakan ajaran agama sebagai pengarah dan pengendali hidup. Menggunakan ilmu pengetahuan untuk memudahkan hidup dan mendayagunakan seni menghaluskan dan mengindahkan hidup. Dengan memposisikan dan memfungsikan agama, ilmu dan seni seperti itu maka hidup ini dapat diselenggarakan dengan tenang dan bahagia tanpa berhura-hura kemewahan berlebihan, yang menimbulkan kesenjangan dan dapat memancing kecemburuan sosial.

Hidup yang terjebak mejauhi kehidupan menurut petunjuk pustaka suci, dinamikanya dapat terjebak pada lautan beracun atau wisaya segara dengan mengutamakan pengumbaran hawa nafsu hidup berhura-hura. Hidup berhura-hura mengutamakan gengsi gede-gedean dengan mengabaikan fungsi. Hidup boros biaya tinggi memboroskan aset pribadi dan negara dapat menimbulkan kesenjangan ekonomi dan sosial. Hal tersebut dapat memicu konflik dengan implikasi yang luas dan tidak mudah mengatasinya. Masyarakat harus dibekali kekuatan moral dan mental agar jangan terjebak hidup di lautan beracun. Hidup yang jauh dari tuntunan dharma ini dapat membawa hancurnya peradaban. Hal ini bisa terjadi karena banyak sarana hidup digunakan tidak dengan tepat sesuai dengan fungsi utamanya. Tidak tepat guna dan tidak memberikan makna apa–apa bagi peningkatan kualitas hidup. Harta benda dan uang sesungguhnya sarana hidup bergeser kedudukannya menjadi tujuan hidup. Demi uang dan harta nilai keakraban sosial dalam persaudaraan pun menjadi lebih rendah dibandingkan dengan nilai harta benda dan uang. Bahkan, nyawa saudara pun nilainya menjadi rendah dari uang dan harta. Masyarakat yang terjebak dalam hidup di lautan racun tidak menghargai proses. Budaya nerabas pun akan berkembang. Budaya nerabas itu adalah menerabas prosedur maupun proses yang berdasarkan aturan hukum akan dengan kesadaran dan kecerdasan tinggi diabaikan. Artinya nerabas prosedur itu dengan kesadaran dan kecerdasan. Tujuan menghalalkan cara dalam mencapai apa yang dianggap menguatkan gengsi meskipun nilai fungsinya nihil. Kehidupan beragama pun akan digebyar bagaikan festival meskipun harus menyempal aspek substansialnya.

Lautan madu dan racun dalam diri manusia maupun di bhuwana agung sangatlah tipis. Sedikit kita lengah akan terjebak hidup di lautan racun. Apalagi di lautan racun atau wisaya segara itu hidup glamor dengan pengumbaran hawa nafsu dengan mengabaikan kendali nilai-nilai moral spiritual. Hidup glamor dengan mengumbar nafsu itu memberi kenikmatan sesaat dengan akibat laknat penuh dosa berakibat neraka.

Hidup di lautan amrta atau madu bukan berarti hidup bersusah-susah penuh derita. Hidup di lautan madu hidup yang dapat memenuhi tuntutan hawa nafsu dengan kendali kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual itu dicerahkan oleh kesadaran budhi nurani. Hal itu menjadi media Sang Hyang Atma menyalurkan sinar sucinya tanpa terhalang oleh gejolak indria. Indria bagaikan kuda yang sehat dan kuat serta patuh pada kendali tali lis kereta yang dikendalikan oleh kusir kereta yang bijak mengikuti arahan pemiliki kereta kehidupan ini yaitu Sang Hyang Atma. Hidup pun menjadi indah tanpa dosa di lautan madu dan akhirnya menuju surga.
Source :   Balipost