Benarkah Begitu Berat Menjadi Seorang Hindu?

Oleh : I Gde Pitana.-

Ada banyak opini yang tersebar di berbagai media maupun dalam percakapan sehari-hari, bahwa menjadi orang Bali yang Beragama Hindu sangat berat. Penuh dengan upacara, banyak larangannya, banyak kewajibannya. Khusus untuk upacara, bahkan ada persepsi bahwa upacara itu terlalu berat secara ekonomi bahkan sampai menyebabkan kemiskinan. Akhirnya sampai kepada simpulan: takut menjadi orang Bali, takut menjadi orang Hindu. Jauh lebih enak dan praktis pada agama lain.

Padahal sesungguhnya, kalau kita pahami dengan baik dan bisa Kita lakukan intepretasi terhadap ajaran agama, sebenarnya menjadi orang Hindu itu sangat mudah. Sangat simple. Tidak ribet.

Mengapa saya katakan menjadi orang Hindu itu sangat mudah? Berikut di antaranya alasannya.

  1. Agama Hindu sangat fleksibel. Tidak Ada kekakuan bahwa melaksanakan agama Hindu harus seperti ini atau seperti itu. Tidak ada kewajiban mutlak untuk berpuasa sekian hari; tidak ada kewajiban mutlak untuk sembahyang sekian kali sehari sampai meninggalkan pekerjaan; tidak ada ancaman hukuman neraka kalau kita tidak melakukan sesuatu; tidak ada ancaman neraka kalau kita makan daging hewan tertentu; dan seterusnya.
  2. Agama Hindu sangat bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Agama Hindu ibaratnya air jernih yang mengalir, yang tanpa warna. Warna air kita lihat akan tergantung dari warna tempat yang dilalui. Pelaksanaan agama Hindu bukan saja boleh disesuaikan dengan kondisi lokal, melainkan harus disesuaikan. Prinsip ini secara umum dikenal dengan Desa-Kala-Patra (menyesuaikan diri dengan tempat, waktu, dan kondisi objektif yang ada).
  3. Agama Hindu mengajarkan untuk menghargai Budaya lokal. Penganut Agama Hindu dimanapun berada tidak harus sama dengan penganut di India. Budaya lokal harus dipertahankan dan dijadikan pembungkus atau kulit luar dari pelaksanaan Agama Hindu. Sebagai contoh, orang Hindu dari etnis Jawa silahkan menggunakan pakaian tradisional Jawa, Umat Hindu di Kaharingan Kalimantan juga dipersilahkan menggunakan pakaian tradisional Dayak Kaharingan; tidak harus memakai sorban atau memakai Dotti seperti orang India.
  4. Pelaksanaan upacara keagamaan di dalam agama Hindu juga sangat fleksibel. Ukurannya bias disesuaikan, waktunya bisa disesuaikan, tempat juga bisa menyesuaikan. Untuk ukuran upakara misalnya, sudah diberikan pedoman mulai dari yang paling kecil (Kanista), yang menengah (Madya), sampai yang paling mewah (Utama). Dan perlu ditegaskan disini bahwa Kanista, Madya Dan Utama bukanlah merupakan indikator atau penentu kualitas sebuah upacara, melainkan hanya merupakan ukuran besar kecilnya serta kompleksitas upacara yang sedang dilakukan. Kanista artinya Inti, pokok, yang utama, bukan rendah atau hina. Upacara yang besar belum tentu lebih berkualitas dibandingkan upacara yang kecil atau sederhana. Bahkan upacara yang besar bias kualitasnya rendah, kalau pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh sifat Rajasika atau Tamasika, seperti keinginan pamer, adu gengsi, bersaing dg orang lain, dst. Ini tergolong rajasika yadnya, bukan Satwika yadnya. Namun demikian, tidak pula berarti bahwa yang sederhana atau kecil selalu berkualitas. Semuanya harus menyesuaikan, dalam kesimbangan antara berbagai komponen upacara-upakara yang dilaksanakan.

Sekali lagi saya menekankan, tidak ada yang perlu membuat orang takut menjadi Hindu.

  1. PRINSIP-PRINSIP DASAR

Kalau dikatakan bahwa agama Hindu sangat fleksibel, selalu menyesuaikan dengan agama lokal, tidak harus sama dengan India, lalu apakah yang menentukan seseorang itu bisa disebut penganut atau beragama Hindu? Apakah prinsip-prinsip dasar yang harus dianut oleh orang Hindu?

Ada beberapa prinsip dasar yang harus diyakini dan/atau diikuti oleh setiap umat Hindu, seperti Panca-Sradha, Trihita Kartana, Rwa Bhinneda, dst.

  1. Panca Srada.

Ajaran dasar Agama Hindu adalah kepercayaan atas 5 hal yang disebut Panca Srada.

1). Brahman. Percaya dengan adanya Tuhan Yang Tunggal, sumber segala sumber, pencipta alam semesta dan segala isinya, serta kemana alam semesta serta segala isinya akan menuju (praline).

2). Atman. Percaya dengan adanya roh yang menghidupi setiap makhluk hidup, dan roh ini bersifat kekal sebagai bagian dari percikan Brahman.

3). Karmapala. Percaya dengan Hukum sebab akibat yang berjalan secara otomatis bahwa perbuatan baik akan mendapatkan hasil yang baik, sebaliknya perbuatan yang buruk akan menghasilkan hal yang buruk.

4). Punarbawa. Percaya dengan kelahiran yang berulang-ulang atau reinkarnasi sehingga agama Hindu tidak mempercayai adanya pengadilan terakhir. Setiap orang diadili sesuai dengan siklusnya masing-masing.

5). Moksa. Percaya dengan adanya penyatuan kembali antara Atma dengan Brahman setelah melalui proses kelahiran berulang-ulang dengan perbuatan baik. Moksa adalah kedamaian abadi, kebahagiaan yang tidak bisa dipikirkan. Jadi, tujuan umat Hindu adalah mendapatkan kebahagiaan abadi, bukan mengejar hal-hal yang sifatnya duniawi.

Sepanjang seseorang mempercayai dan meyakini kelima kepercayaan dasar di atas, maka dia adalah penganut agama Hindu, walaupun karena alasan praktis dan politis di KTP-nya tertulis bukan Hindu.

  1. Trihita Karana.

Trihita Karana mengajarkan bahwa hidup ini harus berkeseimbangan. Kebahagiaan hanya bisa didapatkan hanya jika (dan hanya jika) kita bisa menyeimbangkan berbagai aspek dalam kehidupan, seperti keseimbangan material-spiritual, duniawi-surgawi, sosial-individual, dan seterusnya, atau keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan. Prinsip ini juga berarti bahwa tidak ada gunanya kita sembahyang puluhan kali dalam sehari, membina hubungan baik dengan Tuhan, kalau kita tidak bisa membina hubungan baik dengan sesama manusia.

  1. Rwabhineda.

Rwabhineda secara harfiah berarti dua kutub yang berbeda. Seperti hitam-putih, baik-buruk, atas-bawah, kaya-miskin, laki-perempuan, dan seterusnya. Dengan prinsip Rwabhineda ini kita diajarkan untuk menerima perbedaan, bahkan hal yang berlawanan sekalipun. Namun demikian, diajarkan juga bahwa kedua kutub yang berlawanan itu jangan dipertentangkan, melainkan harus diterima sebagai keniscayaan dan kita harus bisa menyeimbangkan kedua kutub itu. Kita bias hidup dalam perbedaan, co-eksistensi.

  1. Desa-kala-patra

Desa-kala-patra mengajarkan kita untuk selalu melakukan adaptasi dengan situasi kondisi dimana kita berada. Teori Darwin mengajarkan bahwa makhluk yang bisa bertahan sepanjang zaman bukanlah makhluk yang paling besar, bukanlah yang paling kuat, dan bukan juga yang larinya paling cepat. Makhluk yang bisa Bertahan hidup sepanjang zaman adalah makhluk yang bisa beradaptasi dengan lingkungan.

  1. Desa, Kala, Tatwa, Iksa, Shakti.

Mirip dengan Desa-kala-patra, prinsip ini juga mengajarkan bahwa di Hindu tidak ada yang sifatnya mutlak-mutlakan (selain Hyang Widhi). Karena tidak mutlak, maka setiap melaksanakan sesuatu selalu menggunakan ukuran-ukuran relative, yang bisa berbeda antara yang satu dengan yang lainnya yaitu:

  1. Desa = daerah dimana kita tinggal
  2. Kala = waktu
  3. Tatwa = filosofi yang mendasari
  4. Iksa = keyakinan diri
  5. Shakti = kemampuan ekonomi.

Jadi apapun yang dilakukan, termasuk pelaksanaan upacara, harus memperhatikan kelima aspek di atas.

  1. Istadewata-puja.

Setiap orang Hindu diberikan kebebasan untuk memuja Tuhan melalui manifestasi-Nya yang sesuai dengan dirinya. Meskipun agama Hindu pada dasarnya monotheisme (mengakui Tuhan Yang Maha Esa) namun umat Hindu menyebutkan Tuhan dengan berbagai nama sesuai dengan fungsi (bhineka tunggal ika tanhana dharma mangrwa, eka narayana adwityo asti kascit, ekamsatwitprah wahuda wadanti).

Karena Tuhan bersifat Acitya (tidak bisa dipikirkan), maka umat Hindu pun tidak bisa membayangkan kebesaran Tuhan sehingga tidak bisa berkonsentrasi ketika memuja Tuhan. Oleh karena itu umat Hindu dibenarkan untuk memuja Tuhan dalam fungsi-fungsi Tuhan terkait dengan kehidupan manusia. Ketika Tuhan menciptakan alam semesta beserta segala isinya, Tuhan disebut Brahma. Ketika Tuhan memelihara alam raya, Tuhan disebut Wisnu. Ketika Tuhan menghancurkan atau mempralina alam semesta ini, Tuhan disebut Siwa. Ketika Tuhan menurunkan ilmu pengetahuan, disebut Dewi Saraswati. Ketika Tuhan memberikan kemakmuran atau kesejahteraan, disebut Dewi Laksmi. Ketika memberikan makanan, disebut Dewi Sri. Ketika mengatur perputaran tata surya, disebut Dewa Surya. Ketika menguasai pergerakan angin, disebut Dewa Bayu. Ketika mengatur ombak dan arus di laut, disebut Dewa Baruna, dan seterusnya. Umat Hindu dipersilahkan memuja Tuhan dalam berbagai manifestasi seperti disebut diatas. Pertanyaan manakah Dewa yang lebih tinggi atau lebih rendah, sangatlah tidak relevant karena semua itu adalah Tuhan dengan fungsi-fungsi yang berbeda.

Dari berbagai prinsip dasar yang disebutkan di atas, jelas terlihat bahwa beragama Hindu itu sangat mudah. Sangat fleksibel, bisa disesuaikan dengan lingkungan, bisa disesuaikan dengan budaya lokal, bisa disesuaikan dengan berbagai keadaan sosial yang ada, dan bisa disesuaikan dengan keadaan diri atau kemampuan masing-masing umat.

  1. BERAGAMA HINDU DI LUAR BALI.

Ketika kita berbicara agama Hindu di Indonesia maka asosiasi orang adalah Bali dengan berbagai budayanya dan dengan berbagai upacara adat keagamaan yang sangat padat. Persepsi itu memang tidak salah karena daerah yang penduduknya mayoritas beragama Hindu hanyalah Bali dan agama Hindu di Bali tidak bisa dipisahkan dengan adat budaya Bali.

Pertanyaannya, apakah beragama Hindu di luar Bali harus persis sama dengan di Bali, apakah upacara-upacara keagamaan yang dilakukan diluar Bali harus sama dengan di Bali?

Pertanyaan ini sudah menjadi perdebatan puluhan tahun, perdebatan yang tidak pernah mencapai titik temu antara kelompok yang menganut Hindu Bali di satu sisi dengan kelompok yang menganut faham Hindu universal dilain pihak. Bagi penganut faham Hindu Bali, maka praktek agama Hindu di Bali lah yang dijadikan standar, mulai dari bentuk tempat suci (Pura), jenis-jenis upacara, hari baik hari buruk (ala-ayuning dewasa), sampai ke cara berpakaian. Maka umat Hindu di Indonesia dari suku apapun berasal, di manapun bertempat tinggal, semuanya harus di-Bali-kan. Maka akan terjadi proses Balinisasi Umat Hindu.

Bagi penganut faham Hindu universal, penganut Hindu di luar Bali tidak perlu memaksakan diri untuk sepenuhnya mengikuti standar seperti Bali, melainkan harus disesuaikan dengan Desa-kala-patra. Tetapi prinsip-prinsip dasar yang mencirikan ke-Hinduan harus tetap sama, baik pada tataran teologis maupun tataran sosiologis. Penganut faham ini tidak mengharuskan umat Hindu di luar Bali membuat pura seperti di Bali ataupun melaksanakan upacara keagamaan seperti di Bali. Jadi umat Hindu dari suku non-Bali tidak perlu di-Balikan, melainkan di-Hindukan.

Sebagai ilustrasi mungkin bisa dilihat dalam upacara kematian. Di Bali sangat tidak diperbolehkan menguburkan atau membakar mayat pada hari yang masuk dalam perhitungan ingkel wong, semut sedulur, kala gotongan, bulan purnama, odalan di pura desa, dan seterusnya. Di Jakarta ada Perda yang mengatur bahwa tidak dibenarkan menyimpan mayat lebih dari 24 jam.

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan kalau di Jakarta ada umat Hindu yang meninggal pada hari-hari yang dipantangkan untuk menguburkan atau membakar mayat?.

Dalam Hal ini maka ala-ayuning dewasa yang berlaku di Bali tidak perlu diikuti secara ketat di Jakarta. Mayat harus dikremasi dalam waktu secepatnya, walaupun upacara pengabenan dilakukan jauh hari kemudian.

  1. MENJADI ORANG BALI DI LUAR BALI

Karena sebagian besar peserta dharmatula ini berasala dari etnis Bali, maka pertanyaan yang relevan pada akhirnya adalah “bagaimana menjadi orang Bali yang hidup di luar Bali tetapi tetap menjaga kebalian”.

Kebalian itu melekat pada budaya Bali sebagai identitas (cultural identity). Pertanyaannya, dari begitu banyak unsur atau sub-unsur atau komponen kebudayaan, yang manakah merupakan hal yang wajib untuk menjaga identitas kebalian? Sebaliknya, adakah aspek-aspek praksis kebudayaan Bali yang boleh atau harus ditinggalkan?

Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat bervariasi, bahkan banyak yang akan menjawab secara bertentangan. Sebagai contoh, kita tahu bahwa bahasa dan sastra merupakan hal yang penting sebagai identitas budaya Bali. Tetapi, bisakah kita katakana bahwa seseorang sudah “tidak Bali” lagi, karena yang bersangkutan tidak bisa berbahasa Bali atau tidak bisa menulis huruf Bali?

Sebagaimana umum diketahui, kebudayaan adalah hasil dari proses belajar. Di luar Bali, kesempatan dan atmosfer belajar ini tentu tidak sehangat di Bali. Lebih lanjut lagi, kesempatan mengekspresikan hasil belajar tersebut sangat terbatas, sehingga menurunkan keinginan untuk belajar. Apalagi kalau kemudian ditambah rasa inferior, merasa malu menyandang predikat “orang Bali”, kalau Bali dikait-kaitkan dengan persepsi negative atau pertanyaan-pertanyan sinistik yang sulit dijawab oleh kalangan anak-anak/remaja.

Secara teoretis, dikatakan bahwa harus ada tiga komponen besar dalam usaha memepertahankan identitas budaya. Pertama adalah enabling setting, yaitu menciptaan situasi, membuat kondisi yang kondusif bagi masyarakat untuk memperkuat jati dirinya, terutama meyakinkan masyarakat tersebut bahwa apa yang akan dipelajarinya memang berguna bagi hidup dan kehidupannya. Ibaratnya menyiapkan panggung yang memberikan kesempatan seorang penari untuk berekspresi. Kedua, emporing the people, yaitu meningkatkan kapasitas pribadi anggota masyarakat. Diibaratkan, mengajarkan agar setiap orang bisa “menari” atau menguasai suatu ketrampilan untuk bisa dipertontonkan di panggung. Dan yang ketiga adalah socio-political support, yaitu mengusahakan agar ada penonton yang menyaksikan penari yang menari di atas panggung. Tanpa penonton, si penari tidak akan pernah tampil secara maksimal.

Dengan menggunakan teori di atas, maka agar tetap menjadi orang bali di luar Bali, yang pertama harus dilakukan adalah bagaimana menumbuhkan kebanggaan di kalangan orang Bali di luar Bali akan budaya Bali-Hindu yang adiluhung. Ini khususnya ditujukan kepada generasi muda. Tanpa kebanggaan, maka tidak akan ada niat untuk mempelajari budaya Bali-Hindu. Kebanggaan ini bisa ditumbuhkembangkan dengan pendidikan (awareness program), memberikan pengetahuan bahwa budaya Bali sangat kompatibel dengan budaya modern, bahkan nilai-niai budaya Bali-Hindu banyak digunakan dalam berbagai konsep pembangunan, seperti Trihitakarana, sistem subak, ahimsa, toleransi, multiculturalisme, dan sebagainya. Kebudayaan Bali-Hindu adalah kebudayaan yang bernilai tinggi, dan menjadi kekaguman dunia, bahkan menjadi point of reference dalam berbagai aspek pembangunan. Yang tidak kalah pentingnya adalah meyakinkan bahwa melaksanakan budaya Bali-Hindu bukanlah suatu beban. Sebaliknya, budaya Bali-Hindu tersebut bahkan bisa menjadi cultural capital untuk penghidupan.

Selanjutnya, harus ada usaha untuk memperbanyak panggung-panggung dimana generasi muda Bali di luar Bali bisa mengekpresikan kebudayaan yang sudah dipelajarinya, sekaligus memberikan dukungan (spirit) agar terjadinya ekspresi budaya tersebut.

Mengaktualisasikan budaya Bali-Hindu di luar Bali, yang berarti juga menjaga identitas kebalian orang Bali di luar Bali, sering dihadapi berbagai tantangan. Yang sering terjadi bukan saja tantangan dari lingkungan luar, melainkan juga kegamangan sikap individu (atau sekelompok individu), tentang aspek budaya yang harus/wajib dilaksanakan. Yang sering juga membuat kebingungan adalah keinginan yang sangat untuk melaksanakan praksis kebudayaan Bali-Hindu “persis seperti di Bali”, sementara atmosfer atau local setting tidak mendukung. Oleh karena itu maka harus ada keberanian untuk melakukan adaptasi, penyesuaian dengan lingkungan setempat. Para pemuka (prominent person) Bali harus berani memberikan dukungan agar orang Bali di luar Bali berani mengaktualisasikan kebudayaan Bali-Hindu yang tidak harus sama dengan di Bali, tanpa orang bersangkutan merasa ketakutan atau dikejar-kejar dosa. Adaptasi, dalam hal ini adalah kata kunci. Sekali lagi, mahluk yang paling bisa bertahan hidup bukanlah mahluk yang paling kuat, bukanlah yang paling besar, bukanlah yang paling perkasa, melainkan yang paling bisa beradaptasi dengan lingkungan.

  1. KEMBALI KE SASTRA

Dalam melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan, khususnya upacara, ada 4 dresta sebagai pegangan:

  1. Kuna (dan kula) dresta.
  2. Desa dresta.
  3. Loka dresta.
  4. Sastra dresta.

Dari semua dresta di atas, maka Sastra dresta lah yang paling universal, sehingga diposisikan lebih tinggi tinimbang dresta-dresta yang lainnya. Maka, berbagai hal, kalau tidak bisa mememukan kesepakatan, maka harus diangkat kembali ke Sastra dresta, mencari sumber-sumber susastra agama.

Dengan disinari pengetahuan Weda dan susastra Weda, orang Bali di luar Bali akan bisa memberikan secercar sinar kepada masyarakat Bali di Bali, yang mungkin saja terlalu asyik menyelam (dan tenggelam) dalam tradisi yang, karena ruwetnya, tidak sempat diberikan makna, sehingga berhenti pada symbol tanpa makna.

  1. PENUTUP Menganut agama Hindu itu sangat mudah, karena sangat fleksibel; dapat disesuaikan dengan berbagai kondisi, berbagai zaman, berbagai budaya, dan berbagai karakteristik pribadi penganutnya. Karena fleksibilitasnya itu maka agama Hindu terbukti bisa Hidup ribuan tahun, dan akan hidupomselamanya (sanatana dharma).

Pelaksanaan berbagai aktivitas atau upacara keagamaan tidak harus seragam, melainkan disesuaikan dengan iksa, shakti, desa, kala, tatwa. Kata kuncinya adalah keseimbangan dan ketulusan (lascarya), sehingga upacara benar-benar menjadi satwika yadnya, bukan Rajasika atau Tamasika Yadnya.

Agar kita semakin yakin betapa mudahnya beragama Hindu, maka kita harus rajin membaca makna dari simbol yang ada berbagai upacara dan sarana upakara. Kita harus membaca makna-makna dari simbol tersebut dengan mengacu kepada susastra Weda, dan jangan hanya berhenti pada simbol.

Demikian beberapa hal yanag dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya, dan mohon maaf kalau ada yanag kurang berkenan.

Pura Dharmasidhi,
11 September 2018.
OM Shanti, Shanti, Shanti OM. polih ring fb

Categories: Artikel