Tri Murti

Tri Murti sebagai tiga perwujudan dari Tuhan yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa yang mempunyai kekuatan sebagai pencipta (utpathi), pelindung (sthiti), dan pelebur (pralina). Tri artinya tiga, Murti artinya perwujudan.

Tuhan yang gaib ditimbulkan dengan berbagai-bagai simbul. Ia disimbulkan dengan gambar dan aksara. Dewa Brahma disimbulkan dengan aksara Ang, Wisnu dengan aksara Ung dan Siwa dengan aksara Mang. Apabila simbul dari ketiga Dewa tersebut digabungkan, maka akan menjadi AUM yang dibaca “OM” yang merupakan simbul suci agama Hindu. OM adalah lambang Tuhan Yang Maha Kuasa. Lambang-lambang juga kita jumpai dalam berbagai upakara yajña. Dasar pemujaan kepada Tuhan adalah bhakti. Bhakti itu direalisasikan dalam beraneka macam cara dan bentuk. Barang siapa yang bhakti kepada-Nya akan diberkahi.

Aksarasuci OM ini juga disebut Pranawa Mantra, yaitu inti dari semua mantra yang biasanya diucapkan untuk memulai pengucapan mantra-mantra lain. Pranawa Mantra sangat disucikan oleh Pendeta dan umat Hindu secara menyeluruh.

Di Bali konsep Tri Murti diyakini dikembangkan oleh Mpu Kuturan yang datang dari Jawa Timur pada masa pemerintahan raja Udayana.

Bolehjadi Mpu Kuturan bhagawanta raja Udayana; sementara Mpu Bharadah bhagawanta raja Erlangga di Jawa Timur. Adanya pura Kahyangan Tiga, yaitu Pura Dalem, Puseh dan Bale Agung di desa-desa pakraman di Bali merupakan penjabaran nyata ajaran Tri Murti. Dengan konsep ini sekte-sekte disatukan sehingga keharmonisan dan kebahagiaan umat dapat dicapai. Mpu Kuturan adalah Sankaracharya-nya Bali.

Dewa-dewa Tri Murti adalah manifestasi Tuhan dengan sifat dan fungsi-fungsinya. Brahma sebagai pencipta (utpathi), Wisnu sebagai pemelihara (sthiti), dan Siwa atau Rudra atau Iswara sebagai pelebur (pralina) ke sumber asalnya. Alam semesta dengan segala isinya mengalami proses lahir, hidup, mati. Tak seorang pun bisa lepas dari proses siklis ini. Tuhan (Parama Siwa, Hyang Widhi, Sang Sangkan Paraning Dumadi, Sang Hyang Titah, Sang Hyang Licin, dan sebutan lain) dipuja dalam manifestasi-manifestasi tertentu sesuai dengan keinginan pemujanya (bhakta). Dewa-dewa yang dipuja dan ingin dihadirkan saat pemujaan tersebut disebut Ista Dewata. Banyaknya sebutan bukanlah cermin politheisme. Mengapa sampai disebut dengan banyak nama padahal Tuhan itu satu adanya karena sifat-sifat Sang Hyang Widhi Maha Mulia, maha kuasa, maha pengasih, sedangkan kekuatan atau kemampuan manusia untuk mengambarkan Tuhan sangat terbatas, maka orang bijaksana hanya mampu memberikan sebutan dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya.

Kalau kita menamakan Tuhan itu warnanya merah tidak berarti Tuhan tidak mempunyai warna lain. Ia juga mempunyai warna yang putih. Ia juga mempunyai warna jingga. Ia juga mempunyai warna hijau. Semua warna ada padanya. Begitulah akhirnya Ia memiliki banyak nama. Apakah dengan nama yang banyak berarti Tuhan itu banyak? Tentu tidak bukan. Ia tetap Esa. Yang Maha Tunggal.

Sistim pemberian banyak nama kepada Tuhan sesuai peranan-Nya, dalam ajaran Hindu disebut “Ekam Sat Viprah Bahuda Vadanti” artinya “Tuhan itu satu tetapi para bijak menyebut-Nya dengan banyak nama.

Demikianlah Para Rsi menamakan Tuhan itu. Para Rsi itu disebut Vipra. Orang yang arif bijaksana. Orang yang ahli dan pandai.

OM Shanti.

Dikutip dari sebuah WA Group.

Admin