Tri Jnana Sandhi

Umat se-dharma,  Dalam Pustaka suci Weda Samhita  tertuang  tiga kerangka dasar dalam berpikir agama Hindu sebagai salah satu pokok ajaran Hindu yang terintegrasi  menjadi  satu kesatuan utuh  yang dikenal dengan nama TRI JNANA SANDI

Tiga Kerangka Dasar Ajaran Hindu tersebut meliputi :

Tatwa Agama menjadi  landasan teologi dari semua bentuk pelaksanaan keagamaan Hindu.

SUSILA Agama, menjadi landasan Etika dari semua perilaku umat Hindu dalam hubungan dengan Tri Hita Karana.

ACARA agama,  menjadi landasan perilaku keagamaan, tradisi dan kebudayaan religius sebagai Implementasi  dari tatwa dan susila dlm wujud keberagaman yg lebih nyata. Acara juga sbg perilaku, adat dan aturan yg mantap  bersumber pada pustaka suci Weda dlm pelaksanaan menjadi agama Hindu.

Untuk itu, sebagai umat Hindu sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan ketiga kerangka dasar tersebut secara terintegrasi Tri Jnana Sandi sehingga pemahaman dan pengamalan ajaran agama menjadi Utuh dan sempurna. Niscaya pondasi agama pada setiap umat Hindu akan menjadi kuat & kokoh dan menjadi benteng diri.

( Kitab Swastika Rana)

Made Worda Negara
BINROH  Hindu TNI AU.
Pesantian Widya Sabha Sasmitha-Yogyakarta

*&*

[11/1, 13:49] ‪+62 823-4051-5900‬:

Belajar Berbuat Baik

(Oleh: YM Sri Pannavaro)

Bagaimana cara menjadi orang baik? Cara untuk menjadi orang baik adalah dengan berbuat baik. Penjelasan ini amat gampang diterima, sederhana sekali. Tetapi, itu hanya gampang dimengerti. Kenyataannya, tidak mudah untuk berbuat baik. Berbuat baik adalah sautu perjuangan yang tidak ada habis-habisnya, seolah-olah kita sering kalah.

Mengapa kita sulit berbuat baik? Memang ada kendalanya, ada rintangan yang membuat kita sulit berbuat baik. Kita sulit berbuat baik karena kita punya bakat berbuat jahat. Itulah yang membuat kita sulit berbuat baik. Mengapa boleh dikatakan bakat? Karena, bukankah orang yang bisa berbuat jahat itu tidak perlu belajar dulu? Tidak usah diajarkan, tidak harus diberi contoh, dia bisa dengan sendirinya. Bukankah itu seperti bakat?

Kita mempunyai bakat berbuat jahat. Meskipun dilarang, dicegah, diancam, tetap saja bisa berbuat jahat. Memfitnah, menyeleweng, memusuhi orang, marah-marah gak jelas, bisa dilakukan tanpa harus diajarkan dulu. Bukankah itu seperti bakat? Kalau bukan bakat tentu harus belajar dulu. Nyatanya tidak perlu belajar sudah bisa, itulah bakat kita, bakat berbuat jahat.

Kita tidak bisa menghilangkan bakat berbuat jahat hanya dengan mendengarkan kotbah-kotbah saja. Tidak bisa! Membaca buku, mendengarkan ceramah, tidak bisa menghilangkan bakat berbuat jahat. Kita harus praktik-mempraktikkan apa yang kita dengar dari kotbah-kotbah.

Oleh karena itu, saya mengharapkan, cobalah orangtua mendidik kebaikkan kepada anak-anak mereka. Sebab, kalau anak-anak tidak dididik berbuat baik, dia tidak bisa dengan sendirinya berbuat baik. Berbuat baik itu bukan bakat, kalau tidak dididik, tidak diberi contoh, anak-anak tidak akan bisa berprilaku baik. Diberi contoh sekali dua kali saja juga belum cukup. Anak-anak harus dididik dan diberi teladan berbuat baik terus-menerus, berulang kali.

Admin