Tari Rejang Renteng

Hasil seminar sehari tentang Tari Rejang Renteng yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Sukasada pada Minggu, 21 Oktober 2018 sebagai berikut: Dari narasumber yang juga peneliti Ida Ayu Made Diastini, S.ST menyebutkan tari “Rejang Renteng” yang sekarang berkembang di masyarakat adalah pengembangan tari “renteng” yang disakralkan dan menjadi tari wali di Desa Adat Saren, Nusa Gede- Nusa Penida yang biasanya ditarikan ketika pujawali di Pura Dalem Ped. Sekitar tahun 1999 Pemerintah Propinsi Bali kemudian berupaya melestarikan bentuk tarian ini untuk menjadi tari wali dan bebali. Tarian ini diberi nama tari “Rejang Renteng” yaitu, pepesonnya menyerupai tari mendet pada tari wali, dan pengawaknya diambil dari tari renteng yang ada di Desa Saren Nusa Penida. Sedangkan pekaadnya diulang kembali gerakan pada pepeson dan gerakan tari rejang dewa dengan membentuk pormasi melingkar menghadap ke dalam (tengah), keluar, gerakan ngembat ke tengah- keluar dan terakhir membentuk lingkaran dengan memegang selendang secara bersambung.

Dari hasil penelitiannya Ida Ayu Made Diastini menyarakan agar penari yang jumlahnya ganjil (tidak boleh genap) dan penarinya adalah kaum ibu-ibu (wanita yang sudah menikah atau usianya sudah tua) ini sebelum menari hendaknya melakukan ritual terlebih dahulu yaitu; meprayascita atau mebanyuawang, kemudian mendak renteng dengan banten pejati dan segehan agung yang dipimpin oleh seorang pinandita atau Jro Mangku di pemedal jaba pura, untuk keselamatan penari.

Sedangkan pakaian yang disarankan, kebaya putih polos lengan panjang memakai kutubaru, selendang kuning, kain cepuk tenunan kuning, menggunakan tapih putih, pusung tagel, sasakan polos, menggunakan bunga jepun Bali putih, dan subeng sederhana. Semua itu mengandung filosophi bhakti kehadapan Hyang Widhi.

Diingatkan oleh Ida Ayu Made Diastini, bahwa penarinya tidak dibolehkan melibatkan anak-anak atau anak remaja. Sebab, asal kata “renteng” adalah “renta” yaitu usia atau status “tua” atau “dituakan”. Beda dengan penari Rejang Dewa yang harus melibatkan anak-anak yang belum pernah datangbulan. Sedangkan yang sudah menginjak remaja atau gadis (sudah pernah datangbulan) diberikan porsi untuk ngayah menari tari-tarian bebalihan seperti tari taruna jaya, tari pelegongan dan sebagainya.

Admin