Aktualisasi dan Revitalisasi Pengelolaan Pasraman Aditya Jaya

AKTUALISASI DAN REVITALISASI PENGELOLAAN PASRAMAN ADITYA JAYA MENINGKATKAN SRADHA DAN BHAKTI UNTUK MEWUJUDKAN ANAK SUPUTRA SADHU GUNAWAN

Oleh

Drs Nyoman Udayana Sangging, SH,MM, CH, CHt, CT NLP.

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia belajar bertindak adil.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta kasih dalam kehidupan. (Dorothy Nolte (dalam Titib, 2006:v)

Kuneng laksana sang sadhu, tan agirang yan inalem, tan alara yan inindã, tan kataman krodha, pisaning unujarakenang parusawacana, langgeng dhirahning manah nira 
Artinya : 
Adapun ciri-ciri sang sadhu (orang yang utama budhi) adalah tidak gembira jika dipuji, tidak sedih jika dicela dan tidak kerasukan marah, tidak mungkin beliau mengucapkan kata-kata kasar, sebaiknya selalu tetap teguh dan suci bersih pikiran beliau (Sarasasamus caya, 306) 

Sejarah Pasraman Aditya Jaya

Pasraman Aditya Jaya dibangun dari pikiran, hati dan tangan-tangan yang bersih…. oleh mereka-mereka… bapak, ibu… saudara pendahulu kita dengan tujuan hanya SATU. Yaitu agar murid  Hindu di Jakarta mengenal, mengetahui, mampu dan melaksanakan tata kerama, tata upacara tata susila  agamanya….yaitu Agama Hindu. Para founding fathers and founding mothers saat itu bertekad bulat untuk mendirikan suatu tempat untuk belajar. Ya belajar Agama Hindu, tata kerama Hindu, etika Hindu agar mereka tetap menjadi orang Hindu yang benar-benar satwika. Mereka-mereka yang telah menuangkan pikirannya, tercatat namanya antara lain Bapak Gede Murjana, Bapak Ida Bagus Suwanda seorang AURI yang sekarang sudah medwijati, Bapak Kembar, Bapak Ketut Lambat dan lainnya.   Diperkirakan dimulai sejak tahun 1970n. Nah kalau kita imajinasikan pendiriannya sekitar tahun 1980an…..Dan kalau kita hitung sampai sekarang ke tahun  2018 berarti sudah 38 tahun berdirinya.  Dan kalau setiap tahun telah berhasil meluluskan siswa/siswinya sebanyak 10 orang  berarti sudah 380 orang yang lulus dari pasraman.

Namun, kalau sekitar 30 orang setiap tahunnya, maka berarti 30 dikalikan 38 tahun lulusan terdapat sekitar 1.340 orang. Sekarang mereka dimana dan jadi apa? Dulu, mereka belajar digedung sederhana. Gedung Pasramannya sangat sederhana. Bangkunya juga sederhana, Gurunyapun sangat sederhana…..Pengajarnya memiliki tugas khusus sebagai Pegawai Negeri Sipil, sebagai tentara atau polisi atau orang yang memang memiliki semangat untuk membentuk muridnya menjadi pintar.Banyak informasi diterima bahwa mereka lulusan pasraman Aditya Jaya ada yang menjadi dokter, insinyur, pengacara, membuka bisnis sendiri, ibu rumah tangga, kepala keluarga. Bahkan ada yang melanjutkan ke luar negeri. Untuk maksud itulah kita perlu melakukan pengkajian dan pemikiran kita bersama Mokkhsartam Jagadhita Ca iti Dharma. Terhadap para alumni pasraman. Dan kami para guru-guru selalu mendoakan mereka, selalu mengharap mereka untuk terus membawa obor dengan nyala yang membara untuk menyemarakkan suara Hindu ke masa depan. Apakah yang membaca tulisan ini adalah salah seorang alumni Pasraman Aditya Jaya? Kalau ya bergembiralah…………karena Anda-anda telah berhasil menyelesaikan pembelajaran di pasaraman. Dimana kah Anda sekarang? Masih melanjutkan kuliah…….. dimana? Apakah Anda sudah berumah tangga? Berapa anak kalian? Berbahagialah. Selamat ya. Pada gambar, nampak Bapak Misnan S.Ag alumni Pasraman Aditya Jaya dan berhasil meluluskan S1 pada Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara. Ia saya angkat menjadi guru Pasraman Aditya Jaya, untuk memberikan suatu pengakuan bahwa Hindu itu bukan hanya untuk orang Bali, buukan hanya milik orang Baki saja. Keberadaan Pak Misnan dapat memberikan nuansa lebih beragam di pasraman kami, disamping sebekumnya sudah juga terdapat seorang guru asal Jawa, Baoak Triono S.Ag. Perjalanan pasraman kami sangat mulus dan lancatr, Kekurangan dan hambatan yang terjadi di pasraman kami dapat selesaikan dengan baik.  Namun menurut harapan dan cita-cita kita bersama masih dibutuhkan suatu pengkajian yang relevan sehingga bisa menjadi pasraman yang lebih berfunsgi dengan baik dalam upaya membentuk murid yang jujur, disiplin, satwika dan menjadi Anak Suputra Sadhu Gunawan.

Aktualisasi dan Revitalisasi Pasraman Aditya Jaya

Aktualisasi dan Revitalisasi Pengelolaan Pasraman Aditya Jaya melalui peningkatan Sradha dan Bhakti untuk mewujudkan Anak Suputra Sadhu Gunawan, adalah suatu tulisan  bermaknakan ilmu manajemen  yang dikaitkan dengan ilmu-ilmu dari Ajaran  Agama Hndu guna mencapai suatu tujuan yaitu Anak Suputra Sadhu Gunawan. Maksud tulisan ini untuk memberikan suatu gambaran atau potret yang telah dilakukan oleh Pasraman Aditya Jaya, dan ingin dilakukan aktualisasi yaitu berupa penguatan, peningkatan kemampuan para pengelolanya yang terdiri dari para guru dan pegawai tata usaha serta kepala pasramannya.dan dilanjutkan dengan revitalisasi. Dalam melaksaakan revitalisasi jelas memerlukan suatu pengamatan dan evaluasi serta analisa yang cermat dan menjurus, karena revitalisasi artinya: adalah suatu proses atau cara dan perbuatan untuk menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya terberdaya sehingga revitalisasi berarti menjadikan sesuatu atau perbuatan untuk menjadi vital, sedangkan kata vital mempunyai arti sangat penting atau sangat diperlukan sekali untuk kehidupan dan sebagainya. Dari pengamatan yang dilakukan ternyata ada yang terberdaya…..atau belum didayagunakan dengan baik dan maksimal. Oleh karena itu dilakukan aktualisasi dan revitalisasi dalam mengelola Pasraman Aditya Jaya, melalui meningkatkan keyakinan (sradha)  para pengelolanya dan para muridnya serta selalu hormat dan berbhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam melakukan usaha tersebut dibutuhkan suatu action atau kegiatan untuk melakukan pemberdayaan terhadap 6M (Terry) +I yaitu : Man , Money, Methode, Materals, Machine, Market dan Informations. Ke 7 tools diatas harus dikembangkan dan direvitalisasi, disinergikan sehingga bisa berfungsi dengan baik.

Man, yang selama ini hanya hanya dilakukan oleh para guru, pegawai tata usaha dan kepala pasraman saja. Namun kedepan sudah harus mengikut sertakan stake holder, yaitu pemangku kepentingan antara lain: Direktur Jenderal Bimas Hindu Kemenag Repeublik Indonesia, Pembimas Hindu Kemenag Povinsi DKI Jakarta, Ketua Parisadha Jakarta Timur, Yayasan Mandhira Widayaka, Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara, Pengempon Pura Aditya Jaya, masyarakat sendiri termasuk orang tua murid yang juga ikut menentukan dan mendukung berjalannya Pasraman Aditya Jaya ke depannya. Melalui kebersamaan dan saling bersinergi akan menguatkan pasraman untuk menyusun planning yang lebih luas kedepannya. Lebih-lebih Pura Aditya Jaya dibentuk sebagai The Hindus Religions and Culture Center atau Pusat Agama dan Kebudayaan Hindu. Pasraman salah satu sub system yang juga sebagai pelaku dan suporternya.

Money, diartikan sebagai sumber penerimaan dan pengeluaran untuk membiayai aktivitas pasraman. Kepada para murid, dengan penuh hormat kami mohonkan untuk menyumbangkan punia guna biaya operasional kegiatan belajar mengajar, dan keperluan sekolah sebesar Rp 35.000,00.- setiap bulannya. Dengan besaran tersebut, kami upayakan dapat membiayai operasioal belajar dan mengajar.

Methode, belajar dan mengajar adalah dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), awalnya menggunakan kurikulum KTSP yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama Republik Indonesia dan/atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dengan diterapkannya Kurikulum 13 (Kutilas), bagi sekolah-sekolah dari Kelas I sampai dengan Kelas XII termasuk pasraman diseluruh Indonesia, maka kami menerapkannya. Walaupun dalam pelaksaaannya sedikit mengalami ha yang sama dengan sekolah-sekolah/pasraman yag lain dalam pengajaran kepada murid-murid, pemberian nilai raport dan buku pelajaran Agama Hindu dengan Kutilas. Yaitu : para guru harus belajar banyak untuk bisa memahami Kutilas. Karena banyak hal-hal yang  baru dan materinya cukup banyak dibandingkan dengan KTSP. Disamping itu didalam melakukan pengisian raport murid, yang cukup beda dibandingkan KTSP. Satu hal yang cukup penting adalah masalah “buku pelajaran Agama Hindu”, bagi pasraman. Karena pasraman dianggap sebagai sekolah swasta, maka pasraman tidak menerima Dana BOS (Bantuan Operaional Sekolah). Bagi sekolah negeri yang mendapatkan Dana Bos, menerima buku-buku semua mata pelajaran dari sekolahnya. Nah dengan pasraman tidak memilikin Dana BOS, maka pasaraman tidak meneria buku-buku pelajaran secara gratis. Maka bagi murid pasraman, untuk memperoleh buku-buku tersebut, bagi mereka yang membutuhkan dapat mendown load ke web Dik Bud. Melalui mendownload inilah maka buku-buku pelajaran di sekolah dari Kelas I sampai dengan Kelas XII bisa diperoleh dan digunakan untuk belajar. Machine, yang kami miliki dan digunakan berupa 3 Personell Computer dan 2 printer, 1 Note Book, 1 in focus. Peralatan ini diperoleh dari Kementerian Agama RI cq Pembimas Hindu Kemenag Kanwil Provinsi DKI Jakarta dan 1 PC sumbangan dari orang tua murid. Keterbatasan peralatan ini masih dapat melengkapi kami untuk melakukan kegiatan administrasi perkantoran. Kami memiliki 1 mobil inventaris  pemberian hibah dari Bank Indonesia, berupa Kijang Krista. Materials, yang dibutuhkan dalam kegiatan operasioanl pasraman berupa kertas dan amplop dan sarana kecil lainnya. Penggunaan materias cukup banyak sebanyak jumlah murid. Karena kami tidak menggunakan model raport, maka setiap laporan nilai semesteran, kami menggunakan lembaran kertas. Kalau menggunakan raport, seandainya terdapat kekeliiruan penilaian atau salah administrasi lainnya , cukup sulit untuk mengubahnya atau memperbaikinya. Oleh karena itu bagi murid diminta agar memfoto copy lembaran penilaian utuk digunakan  sebagai arsipnya. Penilaian yang kami lakukan sangat obyektif, didasarkan pada banyak pertimbangan positip. Kami melihat kerajinan murid, kedisiplinan, kesopanan, peraktek membuat sarana persembahyangan seperti merangkai canang, kewangen dan lainnya. Bila dipandag perlu si murid kami lakukan Tanya jawab dan mengucapkan doa Tri Sandya dihadapan guru. Hal ini kami lakukan untuk belajar tidak berbohong, dan melatih kepercayaa diri si anak, bahwa dia sebenarnya mampu, bisa, …namun masih perlu belajar dan rajin membaca dan menghapal. Tentu termasuk hasil ulangan semesteran yang diadakan oleh guru bersangkutan. Untuk dipahami, kami pun para guru selalu memberikan nilai yang obyektif…dan jujur yang …..juga kami butuh….. untuk berkarma sebagai seorang guru. Informations, yang diterima menjadi bahan pembahasan kami untuk melakukan perbaikan.Namun dalam menerima infonasi kami sangat selektif, untuk menghin darkan hak-hal yang tidak kami inginkan. Melalui infomas kami berbenah. Informasi dari Pembimas Hindu DKI, untuk menyiapkan laporan, menyiapkan mrid guna lomba dan sebagainya kami cepat tanggap. Demikian pula apabila ada informasi permintaan siswa-siswi untuk mengikuti pasraman kilat, Demikian juga apabila ada informsi  dari Badan Kesehatan Parisade Hindu Dharma Indonesia cepat kami laksanakan. Dalam mengelola informasi kepada murid juga kami sarankan agar ,menggunakan HP….pada waktu dan tempatnya. Termasuk content didalam HP agar tidak memuat gambar-gaambar yang tidak diperbolehkan oleh poeraturan hukum dan ajaran agama Hindu. HP sebagai alat memperdekat yag jauh….jangan dibalikkan menjadikan HP suatu alat yang menjauhkan yabg dekat. Sebagaimana dilakukan saat dimeja makan. Sebelum  makan semua pegang HP…..dan setelah makan semua  kembali memegang HP. Kapan ngobrol dengan keluarga, dengan anak, istri dan suami?  Padahal  sudah seharian tidak bertemu.

Melakukan Aktualisasi Pasraman Aditya Jaya dengan Analisa SWOT.

Setelah kami merajut bersama dengan para guru dan Tata Usaha, kami rasakan bahwa PasramanAditya Jaya  membutuhkan dan memerlukan semangat dan kemampuan yang lebih sehingga bisa dan mampu meningkatkan kekuatan yang ada sehingga lebih vital dan berfungsi lagi, lebih baik dari sebelumnya. Pengamatan yang kami lakukan melalui dan mengacu kepada SWOT, Pasraman Aditya Jaya sebagai berikut:

S (Strength) kekuatan : Pengelolaan Pasraman Aditya Jaya, berlandaskan pada Mokhsartam Jagadhita Ca iti Dharma. Kekuatan inilah yang menyebabkan tingginya semangat ngayah dan meyadnya dari  para guru dan pegawai tata usaha Pasraman Aditya Jaya, Kami telah cukup lama bekerja dan telah menguasai tugas pokok dan fungsi kami masing-masing. Dan terus berusaha melayani para siswa/siswi dengan melakukan kegiatan belajar dan mengajar yang dibutuhkan oleh si murid serta diwajibkan untuk memenuhi persyaratannya dalam mengisi nilai raportnya disekolah masing-masing. Kurikukum awal seperti KTSP telah kami ajarkan dengan baik dengan buku pegangan Agama Hindu, yag kami peroleh dari Dirjen Bimas Hindu ……yang dihibahkan oleh Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta. Dengan dilakukannya perubahan kurikulum menjadi Kurikulum 13 (Kutilas) kami sudah terapkan dengan baik termasuk cara memberikan penilaian kepada para murid, untuk diserahkan kepada Sekolahnya.Para murid dan orang tua murid juga kekuatan kami. Mereka sebagai motivator dan meningkatkan semangat kami semua untuk mengajar, dan melaksanakan tugas dan maksimal. Bayangkan murid kami ada yangb tinggal diluar DKI Jaya, di Depok, Bekasi, bahkan ada yang tinggal di Sukabumi. Kepercayaan yang diberikan oleh bapak, ibu, saudara semua itu kami haturkan matur suksme dan akan kami tingkatkan lagi pengabdian kami.

W (Weakness) kelemahan, masing kurangnya kelengkapan sarana dan prasarana dalam melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar. Jumlah ruangan yang masih kurang sesuai dan proporsional antara jumlah murid  yang diajar. Sehingga menyebabkan keterbatasn waktu mengajar bagi para murid, Para murid Tingkat SLTP Kelas VII, VIII,IX baru bisa belajar dimulai pukul 10.45 WIB. Demikian pula untuk murid Kelas X XI XII dengan terpaksa dimulai dari pukul yang sama. Belajar mereka sampai dengan pukul 13.00 WIB.  Kami berandai-andai….kapan ya….. dan apabila kami, memiliki ruang kelas yang cukup, maka kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan lebih panjang waktunya tidak hanya sekitar 2 jam kurang. Dan belajarnya bisa dimulai sejak pukul 8.00 sampai dengan pukul 12.30 bersamaan dengan semua tingkat kelas lainnya dari Tingkat SD (menyesuaikan) maupun SLTP dan SLTA. Kami merencanakan selama di kelas, akan kami ajarkan ilmu agama Hindu yang lebih mendalam lagi, kami ajarkan tata kerama Hindu dam kami ajarkan peraktek keagmaan Hindu agar mereka lebih memahami dan mengerti Agamanya agama leluhurnya dan mereka menjadi lebih militant mempertahan Hindu kemasa depan. Berdasarkan teori otak kanan dan otak kiri………maka…….agar otak kanan juga berfungsi baik…. menyangkut seni dan budaya dan kebijakan, maka pelaksanaan Ekstra Kurikuler (ESKUL) bisa dilakukan lebih maksimal. Yang selama ini kami ngintip-ngintip dulu tempat kosong, apa di wantilan dipake arisan dll. Mari kita pikirkan bersama.

O (Oportunities) peluang. Peluang atau kesempatan kami peroleh dari (1) Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat Hindu (Pembimas Hindu) Kementerian Agama Republik Indonesia, (2) Pembimas Hindu DKI Jakaarta, (3) Ketua SDHD DKI Jakarta, (4) Ketua PHDI DKI Jakarta (5) Ketua SDHD Banjar Jakarta Timur, (6) Ketua PHDI Jakarta Timur (7) Ketua PAJ, (8) Para orang tua murid (9) Umat Hindu lainnya. (10) para donator alumni Pasraman Aditya Jaya.  Bantuan dan kesempatan yang diberikan telah kami gunakan dengan baik. Buku-buku banyak diberikan oleh Dit Jenderal Bimas Hindu dan Pembimas DKI Jakarta. Ruangan yang selama ini kami gunakan, kami tidak membayar listrik…..mungkin karena kami hanya memakai seminggu sekali? Gedung pendidikan, walaupun itu sebenarnya gedung dibangun oleh orang tua murid Pasraman Aditya Jaya, namun kami tidak mempersoaalkan untuk kita gunakan  bersama walaupun banyak kegiatan yang terkorbankan. Namun selalu kami percaya…kegiatan belajar mengajar akan terus berjalan baik,,,selama kita memiliki jiwa seorang “pengajar”.

T (Threat) kendala/hambatan. Kalau ditanya hambatan…..apa yang kami sebutkan? Kami menyatakan tidak ada. Karena hambatan tersebut dapat segera kami selesaikan dengan baik. Namun yang memrlukan perbaikan hanya saling bersinergi yang positip dari kelembagaan Hindu yang ada kaitannya dengan Pasraan Aditya Jaya. Kami sangat mengharapkan mari kita pecahkan kendala atau rintangan bersama……………jangan membuat kendala atau masalah  yang masih sumir atau bayang-bayang sehingga sulit kita pecahkan bersama. Pasraman adalah tempat belajarnya siswa-siswi yang memderlrukan sentuhan hati ketulusan. Kalau ini dilakukan maka hambata  atau kendala tersebut pasti dapat kita selesaikan bersama.

Dalam mengelola Pasraman Aditya Jaya, kami semua para guru dan tata usaha selalu berusaha berbuat yang maksimal. Dengan harapan semua menerima pelajaran Agama Hindu dengan baik. Oleh karena itu kami selalu melakukan pengamatan dan evaaluasi guna melakukan pembenahan. Namun sebagaimana disampaikan diatas, bahwa untuk kedepannya dibutuhkan saling bersinergi diantara kita semua untuk membawa Pasraman Aditya Jaya menuju cita-cita kita bersama. Dan kita jaga, kita bentuk murid-muridnya menjadi anak yang militant Hindu. Untuk itu sangat dibutuhkan  sumbang saran pemikiran dari semua umat se dharma. Bagaimana caranya kita mewujudkan suatu pasraman yang lebih maju kedepannya?. Sehingga bisa bersaing dalam kancah pendidikan dan keberadaan lulusannya dikemudian hari. Bayangkan kalau semua alumni pasraman perduli (care)…dengan membentuk Ikatan Alumni Pasraman Aditya Jaya…..akan terkumpul  alumnus sebanyak lebih seribu. Dari seribu ini memiliki pemikiran yang membangun, maka akan dapat mendorong para murid untuk belajar lebih baik, lebih giat lagi. Karena dari hasil testimony, mereka sudah melihat kakak-kakak kelasnya semua sukses….lulusan Pasraman Aditya Jaya Rawamangun. Mari bersama berrpikir….mari bersama berbuat…………mari bersama meyadnya…..untuk kebahagian kita bersama.

Visi dan Missi Pasraman Aditya Jaya.

Untuk memberikan pedoman dalam mengelola Pasraman Aditya Jaya, maka telah disusun Misi dan Visi sebagai berikut:

Visi

TERWUJUDNYA PASRAMAN YANG MAMPU MEMBERIKAN PEMBELAJARAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SERTA SENI BUDAYA UNTUK MEMBENTUK MURID PASRAMAN ADITYA JAYA MEMILIKI SWADHARMA YANG SADWIKA UNTUK MENJADI ANAK YANG SUPUTRA SADHU GUNAWAN.

Missi

  1. MENGUPAYAKAN PEMAHAMAN  SERTA MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN PARA MURID PASRAMAN DIDALAM MELAKSANAKAN AJARAN AGAMA HINDU BERUPA TATWA SUSILA DAN UPAKARA
  2. MENINGKATKAN KINERJA PASRAMAN ADITYA JAYA SEBAGAI WADAH PEMBELAJARAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SERTA SENI BUDAYA SEHINGGA PARA MURID MEMILIKI KEPRIBADIAN YANG BERMORAL BERDASARKAN AJARAN DHARMA
  3. MEMBENTUK MURID PASRAMAN YANG BERJIWA KESATRIA, JUJUR, BERDISIPLIN, SALING HORMAT MENGHORMATI KEPADA SEMUA UMAT MANUSIA (VASUDEVA KUTUMBAKAM) SERTA MRMILIKI PERGAULAN BERMASYARAKAT YANG LUAS SESUAI DENGAN AJARAN DHARMA.
  4. MEMBERDAYAKAN PERAN SERTA ORANG TUA /WALI MURID DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BELAJAR DAN MENGAJAR BERDASARKAN PRINSIP ASAH ASIH ASUH.
  5. MELAKSANAKAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DAN GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT (GERMAS) SECARA BERKESINAMBUNGAN.

 

Operasional Pasraman Adtya Jaya

Pasraman Aditya Jaya, baru dalam Tahun Ajar 2018/2019 semua kelas menggunakan Kurikulum 13, yang sebelumnya menggunakan KTSP. Dalam mengelola Pasraman dibandingkan mengelola Training Center, tidak jauh beda. Hanya untuk Training Center, kita harus mengetahui terlebih dahulu Training Needs Analysis (TNA) serta metode pelajaran yang digunakan andragogi yaitu pembelajaran khusus untuk orang dewasa. Oleh karena untuk suksesnya pembelajaran para nara sumber dalam mengajar diharuskan memberikan contoh dan pemecahan kasus yang bermanfaat untuk digunakan dibidang tugasnya nanti. Sedangkan untuk pasraman, mengajar Agama Hindu lebih mudah karena terdiri dari murid-murid yang hanya belajar Agama Hindu, karena mereka butuh pelajaran tersebut.Yang membedakan hanya pada tingkat kelasnya dari Kelas I sampai dengan Kelas XII. Oleh karrna itu para guru harus mampu menjelaskan masing-masing materi yang ada didalam buku pegangan guru. Guru harus mampu mengulasnya menjadi sebuah pelajaran atau ceritra menarik  dan mengkaitkannya dengan keadaan yang sebenarnya, disertai dengan contoh-contoh sehinga para murid bisa menyimak dengan baik dan mengerti isi dan maksud pelajaran tersebut. Pembelajaan dimulai dari Pukul 8.00 pagi dan disesuaikan dengan tingkat kelasnya. Rata-rata belajar waktunya hanya 2 jam (120 menit). Karena kuragnya ruang kelas, maka dilakukan pembelajaran bergilir, yaitu untuk kelas SD belajarnya dari Pukul 8.00 dan Tingkat SLTP dan SLTA dimulai setelah selesainya Tingkat SD yaitu sekitar pukul 10.00.  Kekurangan ruang kelas ini juga menjadi penghambat dalam kami melakukan kegiatan belajar dan mengajar. Apabila ruang kelasnya cukup, maka waktu belajar bisa semakin banyak, serta yang diajarkan semakin beragam termasuk memberikan pelajaran peraktek dan lainnya. Para murid sangat antusias untuk belajar Agama Hindu, Disamping mengharuskan mereka harus tahu, mengerti dan bisa melaksanakannya, namun yang cukup pentinhg adalah meraka para murid menginginkan nilai Agama Hindu dari Pasraman Aditya Jaya guna mengisi raportnya. Kalau tidak memiliki nilai Agama Hindu, maka raport agama Hindu dan budi pekertinya akan kosong tanpa nilai. Alasan ini juga dapat kami sebutkan sebagai penyemangat mereka mengikuti mata pelajaran Agama Hindu. Ada pada satu sekolah yang disekolahnya tidak disediakan Guru Agama Hindu dan mereka diajarkan Agama Kristen atau Agama Katolik. Disekolah ini nilai Agama Hindu tidak dibutuhkan karena tidak termasuk sebagai nilai raport.  Bagi merek yang bersekolah disekolah tersebut, namun mereka dengan kesadaran masuk sebagai murid Pasraman Aditya Jaya dan tetap ikut mata pelajaran Agama Hindu, walaupum nilainya tidak dibutuhka oleh sekolahnya. Kepada murid seperti ini, kami sangat salut dan menghargai sekali, Karena belajar Agama Hindu di Pasraman Aditya Jaya, adalah belajar untuk melakukan sosialisasi dengan teman sedharma, melakukan persembahyangan bersama dan mengikuti kegiatan yang erat kaitannya dengan Tatwa, Susila dan Upakara yang sangat dibutuhkan bagi si murid Hindu. Orang tuanya sudah merencanakan anak-anaknya untuk melaksanakan sradha dan bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, sejak di bangku Sekolah Dasar. Karena pondasi tumbuh kembangnya anak sangat dibutuhkan siraman agama Hindu untuk digunakan kelak setelah ia dewasa atau dimasa btbrahmacari…..menuju ke tahap grahasta.  Bahkan ada juga yang melakukan home scholling. Murid diajarkan Agama Hindu dirumah oleh seorang guru Agama Hindu yang didatangkan kerumah Si Murid. Namun agar diperrhatikan penyerapan sosialisasi Hindu yang disebut menyame brayed an hubungan pesemetonan dengan teman dan masyrakat lainnya. Tujuannya untuk bisa dan mampu belajar beretika Hindu atau beretika cara Bali.

Meningkatkan Sradha dan Bhakti.

Pemilihan judul dharma wacana seperti dibawah ini

AKTUALISASI DAN REVITALISASI PENGELOLAAN PASRAMAN ADITYA JAYA MENINGKATKAN SRADHA DAN BHAKTI UNTUK MEWUJUDKAN ANAK SUPUTRA SADHU GUNAWAN

adalah suatu refleksi tentang bagaimana kita mewujudkan mimpi, khayalan  kita mampu dalam membangun sebuah pasraman yang  bisa berfungsi membentuk Anak Suputra Sadhu Gunawan. Membentuknya tentu membutuhkan suatu perencanaan yang sangat baik, serta dukungan dari bapak, ibu serta para stake holder, atau pemangku kepentingan lainnya, dan orang tua murid serta si murid kita sendiri. Percayalah dengan kita berusaha, berupaya dan bedoa (Ora et Labora) apa yang kita niatkan akan dimudahkan oleh Sang Hyang Widhi Wasa.  Dalam Niti Sastra IV, menyebutkan:

Yan ring putera suputera sadhu gunawan memadangiku lawan dhuwandhana,

Artinya

di kalangan putera (anak), anak yang utama (suputra sadhu gunawan) sebagai    pelita menerangi seluruh keluarga.

Yang menjadi harapan semua orang tua. Karena si Anak akan memberikan nama baik leluhurnya, selalu berbudi baik, sopan santun, pintar serta disenangi oleh semua orang.

Fokus pada Ajaran Agam Hindu

Dalam mewujudkan Anak Suputra Sadhu Gunawan tidak bisa dilakukan hanya oleh guru sekolahnya saja, namun harus  dibantu dan/atau atau didukung oleh orang tua si murid.  Guru Pengajian saja disekolah atau dikelasnya masing-masing harus melakukannya dengan kan pembelajaran Agama Hindu harus benar-benar menggunakan ajaran Agam Hindu yang teoat dan benar.

Catur Guru

Sebagai orang tua murid dan sebagai murid dan kita semua harus memahami, bahwa dalam melakukan pelatihan dan pembelajaran di dunia ini kita umat Hindu sudah memiliki  suatu pedoman yang disebut Ajaran Catur Guru. Hindu, telah mengaturnya sedemikian baik, sehingga dengan jelas tugas itu diserah tanggungjawabkan kepada siapa, saat bagaimana/kapan, dimana caranya bagaimana kita belajar dan lainnya.  Adapun catur Guru terdiri dari pentahapan memulainya peembelajaran dimaksud. Yaitu dimulai dari yang utama dan pertama (1) Guru Swadhyaya, (2) Guru Rupaka , (3) Guru Pengajian (4) Guru Rupaka.

Demikia pula halnya didalam membentuk anak mencapai keberhasilan yang dicita-citakan  bersama, para orang tua, tidak bisa hanya menyerahkan kepada Para Guru disekolah saja (Guru Pengajian), karena pendidikan awal yang harus memberikan adalah orang tua si murid. Isilah otak si Anak dengan pengasuhan yang benar, dengan kejiwaan dan kasih sayang. Demikian pula waktu yang dimiliki Para Guru Pengajian disekolah formal, di pasraman sangat terbatas, ….dan tidak maksimal menyampaikannya…mata pelajaranya dan ini harus dilanjutkan dirumah oleh orang tua si  murid. Dengan demkian berarti kita harus saling mendukung dan tidak menyerahkan sepenuhnya……hanya kepada Parea Guru Pengajian.

  1. Guru Swadhyaya .

Urutan pertama dalam Catur Guru telah mencerminkan  pertama kali kita belajar dan mendapat pelajaran adalah dari Ida Sanghyang Widhi Wasa, Beliau sebagai Sang Pcncipta. Pembelajaran yang tidak henti-hentinya bagi umat Hindu harus dan  wajib selalu hormat dan bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Kita menyebut Guru Swadyaya sebagai guru sejati. Dinamakan guru sejati karena Beliau adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Beliaulah yang telah menciptakan alam semesta dengan segenap isinya ini, kemudian memelihara dan melindunginya dan akhirnya juga melebur atau mengembalikan ke dalam bentuk asalnya. Dalam Panca Sradha, disebutkan kita umat Hindu meyakini keberadaa Ida Sanghyang Widhi Wasa, meyakini dengan adanya atman atau roh, karma phala dan punarbawa (reinkarnasi,) serta Mokhsa.

Kita harus bisa dan mampu untuk meyakini bersama, kenapa Ida Sang HYang Widhi Wasa dinyatakan sebagai guru? Jawabannya, Karena Ida Sang Hyang Widhi asa, Tuhan Yang Maha Kuasa adalah pembimbing utama bagi umat manusia yang tidak ada bandingannya. Beliau Mahatau, beliau juga Mahakuasa, dan Mahasakti serta Maha Kasihsayang. Karena itu sebagai manusia kita perlu mewujudkan sradha (keyakinan) dan bhakti kita (hormat) kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan tulus ihklas. Cara mewujudkan sradha dan bhakti kepada Guru Swadyaya dilakukan dengan kita :

  1. Selalu ingat kepada-Nya, setiap detik, setiap tarikan nafas kita, menucapkan Om…
  2. Meyadnya dan ngayah di Pura,
  3. Melaksanakan tapa, brata, yoga, samadhi.
  4. Menjaga kesucian pura, ikut melakukan pembersihan dan memelihara keindahan pura, dan tidak berbuat adharma di pure.
  5. Mempelajari kitab suci Weda, Sarasamuscaya, Bhagawadgita, Purana dan lain kitab suci.
  6. Medana punia baik berupa uang dan barang dan lain-lain.
  7. Melakukan persembahyangan Tri Sandhya, setiap hari tiga kali.
  8. Berdoa sebelum melakukan kegiatan.
  9. Meyakini kebesaran Tuhan, Om Awignam Astu namo sidham.
  10. Selalu bersyukur atas karunia-Nya,
  11. Mempelajari ajaran ketuhanan, berdiskusi dengan teman mempelajari  weda , sloka dll
  12. Melaksanakan upacara piodalan, di Pura Kawitan, Pura Desa Pura Dalem dan di pure lainnya.
  13. Melakukan Thirta Yatra, ke pure-pure sambil belajar dan memberi punia berupa dana, karma dll.

Guru Rupaka

Orang Tua disebut sebagai Guru Rupaka. Karena si Anak sejak baru lahir berada dalam dekapan ke dua orang tuaya, dilatih berbicara, belajar makan dan beretika sopan dan santun berdasarkan ajaran Agam Hindu. Keberhasikan si Anak sangat ditentukan cara pengasuhan oleh  orang tuanya. Mereka pasti lebih menurut, karena orang tua adalah panutan bagi anak-anaknya. Guru Rupaka atau Guru Reka adalah orang tua atau Ibu Bapak Si Anak dirumah. Bapak Ibu sebagai orang pertama yang memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Kepada para orang tua, jangan salah mengasuh, karena manusia tumbuh dan berkembang adalah berkat pendidikan dan asuhan orang tuanya.

Dalam mengasuh anak sangat ditentukan juga oleh kedua orang tuanya dalam melaksanakan tugasnya sebagai bapak dan ibunya.  Karena sangat berprengaruh terhadap pendidikan anak-anaknya orang tua sanagat diharapkan menjadi panutan mereka. Orang Tua harus melakukan Tri Kaya Parisudha dan Tri Hita Karana, dan para bapak ibu dapat mewujudkan keadaan atau kondisi sebagaimana dinyatakan :  dalam Manawa Dhama Sastra, Sloka 60, 61 dan 62 sebagai berikut:

Sloka 60 menyatakan:

Samtusto bharyaya bharta bhartra  Tathaiwa ca yasminnewa kule nityam

Kalyanam tatra wai dhruwam

Artinya :

Pada keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya kebahagiaan pasti kekal

Sloka 61 menyatakan :

Yudi  hi sri na roceta pumamsam na Promodayet, apramoda punah pumsah

Prajanam na prawartate

Artinya :

Karena kalau istri tidak mempunyai wajah berseri, ia tidak akan menarik suaminya, tetapi jika sang istri tidak tertarik pada suaminya, tidak akan ada anak yang akan lahir.

Sloka 62 menyatakan:

Siryad turocamanayam sarwam tadtrocate  Kulaum, tasyam twaro camanayam sarwanewa na rotate.

Artinya :

Jika sang istri selalu berwajah berseri- seri, seluruh rumah akan kelihatan bercahaya, tetapi jika tidak berwajah demikian, semuanya akan kelihatan suram.

Makna dari ketiga seloka diatas, sangat berpengaruh kepada anak-anak. Karena kalau didalam rumah tangga selalu tegang, selalu terjadi pertengkarang antara si ibu dan si bapak. Saling merasa menang dan menyalahkan, tidak adanya saling memafkan. Bagi si Anak suasana ini akan dijadikan pelajaran dan membekas sejak kecil….kata-kata yang dikeluarkan orang tuanya terpateri dalam dibenaknya. Suasana yang cukup keruh ini telah mengganggu mereka belajar apalagi untuk berkonsentrasi. Besok ada ulangan, atau ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan malam ini. Anak menjadi kacau pikirannya. Semogalah kegalauan dan kekacauan pikirannya si Anak selalu mengingat kepada swadharmanya sebagai seorang anak, maka dia akan patuh untuk melaksanakannya.

kitab Slokantara :

Kupasatad wai paramam saro’pi

sarasatad wai paramo’pi yajnah,

yajnasatad wai paramo’pi putrah,

putrasatad wai paramam hi satyam

(Slokantara 2)

Artinya :

Membuat telaga lebih baik daripada menggali seratus sumur,

melakukan yadnya itu lebih tinggi mutunya dari pada membuat seratus telaga, mempunyai putra itu lebih berguna daripada melakukan seratus yadnya, dan menjadi manusia setia (Satya) itu lebih tinggi mutunya dan gunanya dari pada seratus putra.

Karena itu, anak-anak harus hormat dan menghargai orang tuanya.

Rasa bhakti kepada Guru Rupaka dapat   diwujudkan melalui sikap dan tindakan  antara lain dengan:

  1. Menjunjung tinggi kehormatan keluarga, jangan membawa-bawa nama orang tua yang dapat merusak nama orang tua dan keluarga. Lakukanlah Yri Kaya Parisudha sdengan baik dan benar.
  1. Membantu dan memperhatikan kesehatan orang tua jika sedang sakit, harus tanggap dan belas kasih kepada orang tua, perhatikan senyumnya dan raut mukanya dengan baik. Mungkin asda yang ingin beliau sampaikan, Tegorlah dan dahuluilah menyapa Beliau. Jangan membentak. Sopan selalu.
  2. Melaksanakan upacara Pitra Yadya, Manusia Yadnya sebagaimana mestinya.
  3. Mengikuti dan melaksanakan nasehat orang tua, patuhi. Karena semua orang tua menginginkan Anak-anaknya bahagia. Percayalah.
  1. Membantu orang tua dalam melaksanakan tugas pekerjaannya, sangat baik. Karena beliau memerlukan bantuan kalian.,

Dalam mengasuh anak disebutkan dalam Kakawin Nitisatra danPutera Sasana menyatakan bahwa:

Anak yang berumur lima tahun, diperlakukan sebagai anak raja, Jika sudah berumur 7 tahun, dilatih supaya menurut, sepuluh tahun diajarkan membaca. Enam belas tahun diperlakukan sebagai  sahabat dan hati-hati menunjukkan kesalahannya. Jika ia sendiri sudah berputera diamat-amati saja tingkahnya, kalau mau memberi pelajaran kepadanya cukup dengan isyarat.

Pengasuhan oleh Orang Tua sangat menentukan si Anak untuk beranjak dewasa. Sangat baik sekali kalau sejak kecil selalu diberikan kata[kata yang sop[an penuh kasih saying, maka setekah besar ia akan melakukannya denga siapa saja.

3. Guru Pengajian.

Guru pengajian atau Guru Waktra adalah guru yang memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kita di sekolah. Guru di sekolah memberikan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya, sehingga murid menjadi pandai dan terhindar dari kebodohan berarti lenyaplah penderitaan.

Guru Pengajian ini dapat diartikan sebagai pentahapan atau pergeseraan para murid yang tadinya belajar dengan orang tuanya, karena umur dan belum bersekolah kesekolah formal. Para orang tua yang mengajarkan sebelumnya. Anaknya  diajarkan,  dididik oleh orang tuanya. Karena sudah berusia sekolah, maka bergeser ke suatu tempat, wadah atau sekolah atau juga disebut pasraman.Namun  selaku orang tua, sebagai  guru rupaka atau guru waktra….tidak memiliki batas waktu untuk mengajar anak-anaknya. Bahkan sampai anaknya sudah berumah tangga, hanya dibedajan dalam cara mengajarnya saja.

Di sekolah di pasraman,,,,,,Karena murid-murid harus menghargai dan menghormati gurunya. Murid-murid pun dapat mewujudkan rasa bhaktinya kepada Guru Pengajian antara lain dengan:

  1. Mentaati tata tertib sekolah,
  1. Rajin belajar,
  2. Selalu berbudi luhur.
  3. Tidak mencaci maki guru,
  4. Menjaga nama baik guru dan sekolah,
  5. Selalu mengingat guru, meskipun sudah tidak menjadi muridnya lagi,
  6. Tidak menantang guru,
  7. Menyapa dan memberi hormat kepada guru,
  8. Melaksanakan semua nasihat dan ajarannya,
  9. Menjaga kesehatan dengan tidak merokok.
  10. Tidak berbuat asusila
  11. Tidak melakukan pernikahan dini.

4. Guru Wisesa | pemerintah seyogyanya dapat menjadi inspirator.

Guru wisesa adalah Pemerintah yang selalu berusaha mendidik dan mengayomi rakyatnya, selalu mensehjaterakan dan memberikan perlindungan. Karena itu pemerintah harus selalu dihormati dan dihargai. Kita perlu mewujudkan rasa bhakti kita kepada Pemerintah antara lain dengan cara:

  1. Menghargai dan menghormati para pahlawan bangsa,
  1. Memelihara dan menjaga harta benda milik pemerintah,
  1. Memelihara hasil-hasil pembangunan bangsa,
  1. Bangga menjadi bangsa indonesia. (K.M. sukardana, 2010 : 35-38)
  1. Rajin membayar pajak,
  1. Cinta tanah air negara dan bangsa,
  1. Mentaati semua ketentuan Pemerintah,
  1. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila,
  1. Selalu menghormati aparatur Pemerintah yang bersih dan jujur,
  1. Berpartisipasi dalam mengamankan negara,
  1. Berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan,

Catur guru sebagai pedoman dalam guru susrusa ini yang bertujuan untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian batin berupa dharma dan moksa. Dilakaukan dengan mendengarkan atau menaruh perhatian terhadap ajaran-ajaran dan nasehat-nasehat guru khususnya pada catur guru, yang sangat mulia, terhormat, tersayang, agung dan sangat kuasa.

Melalui Catur Guru dilakukan pelatihan dan pebelajaran kehidupan yang disesuaikan dengan tingkat umar para murid.

Simpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan didalam kita mewujudkan Anak Suputra Sadhu Gunawan melalui Pasraman Adhitya Jaya  perlu dilakukan:

  1. Penguatan semangat dan action para pengelola Pasaraman Aditya Jaya bersama Para Pemangku Kepentingan (Stake Holder), yang terdiri dari Ketua SDHD DKI, Ketua SDHD Banjar Jakarta Timur. Ketua PHDI Jakarta Timur, Ketua PAJ, Para Ketua Tempek, Para pengempon Pura Aditya Jaya, STAH Dharna Nusantara, para Orang Tua Murid, para Alumni Pasraman Aditya Jaya dan masyarakat lainnya.
  2. Dengan keterbatasan waktu pembelajaran didalam kelas, dibutuhkan bantuan orang tua murid selaku Guru Rupaka untuk ikut bersama-sama mengajar putera dan puterinya dirumah. Membentuk suasana yang gembira dan harmonis, serta membantu  dan mendukung anak-anaknya untuk belajar dengan baik dan tenang.
  3. Selaku orang tua murid, dimohon untuk memberikan informasi apabila terjadi masalah terhadap si Anak dan/atau anak didik kami yang menyangkut mata pelajarannya khusunya Agama Hindu. Kami siap melayani dengan baik dan cepat agar si Anak tidak bermasalah.
  4. Untuk meningkatkan waktu belajar para murid akibat keterbatasan ruangan kelas, dimohon   mendapat perhatian dari Pemangku Kepentingan dan orang tua murid serta umat lainnya.
  5. Murid Pasaraman Aditya Jaya, merupakan  asset tumbuh kembangnya anak untuk masa depan Hindu. Oleh karena itu, membutuhkan perhatian kita bersama untuk bisa meningkatkan Sradha dan

Bhaktinya kepada Sang Hyang Widhi Wasa menuju yang lebih baik, yaitu menjadi Anak Suputra Sadhu Gunawan.

Saran-saran.

Karena Pasraman Aditya Jaya milik kita bersama, maka sangat diharapkan sumbang saran Bapak Ibu Saudara dan para Alumnus untuk memberikan saran-saran guna menunjang keberhasilan Pasraman Aditya Jaya dalam melaksanakan Visi dan Missinya,

 

Admin