Yadnya Kerthi dalam bentuk Dana Punia

Tujuan hidup menurut agama Hindu adalah untuk mencapai kebebasan (ketidak terikatan) lahir maupun bathin.

Salah satu jalan untuk mencapainya menurut Mahā-Nārāyaņa Upanişad Ekonaśitimo ‘Nuvākah (Bag. 79). Sloka 6. adalah dengan berdana punya, lengkapnya sbb :

dānamm yajñānāmm  varūtham dakşiņā, loke  dātāramm sarvabhūtānyupa  jīwanti, dānenārātīrapānudanta, dānena  dvişanto  mitrā  bhawanti  dāne  sarvam  pratişţhitamm  tasmād  dānamm  paramamm  wadanti.

Artinya pemberian amal sedekah dalam wujud dakşina merupakan tempat kediaman kurban yang pasti. Di dunia, semua makhluk hidup dari seorang pemberi amal. Orang-orang tak mendapatkan amal sedekah karena mereka memusuhi dan memfitnahnya. Dengan amal mereka yang bermusuhan  menjadi bersikap bersahabat. Segala sesuatunya ditegakkan dalam amal sedekah; sehingga  mereka mengatakan bahwa amal sedekah merupakan cara pembebasan tertinggi.

Demikian pula  diuraiakan dalam Bhagavad-gītā Adhyaya XVIII. 5 sbb:

yajña-dāna-tapah-karma na tyājyam kāryam eva tat yajño dānaý tapaś caiva pāvanāni manīşiņām.

Artinya : Perbuatan korban suci, kedermawanan dan pertapaan tidak boleh ditinggalkan; kegiatan itu harus dilakukan. Roh-roh yang mulia sekalipun disucikan oleh korban suci, kedermawanan dan pertapaan.

Perbuatan berdana-punya termasuk perbuatan yang mulia (sattvika) diuraiakan dalam  Bhagavad-gītā Adhyaya XVII. 20 sbb:

dātavyam iti yad dānamm dīyate ‘nupakāriņe

deśe kāle ca pātre ca tad dānamm sāttvikamm  smŗtam.

Artinya : Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu yang tepat dan di tempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan.

Pada jaman kaliyuga dana punya merupakan perbuatan yang utama untuk dilakukan sesuai Manawa Dharma Sastra Adhyaya I.86 sbb:

Tapah param kŗta yuge  tretayam  jñānamucyate

dwapare yajñaevahur   danamekamm kalau yuge.

Artinya : Di dalam jaman Kretayuga, tapalah yang paling utama, di jaman Tretayuga dinyatakan pengetahuan (jñāna), di dalam jaman Dwa para disebut yajña dan di jaman Kaliyuga danalah yang paling utama.

Adapun waktu yang tepat untuk memberikan dana-punya diuraiakan dalam  sārasmuscaya śloka 183 sebagai berikut :

Ayaneşu ca yaddattam, şadacitimhukaşu, candra sūrya parage davisuveca tadakşayam.

Artinya : Hari yang baik pada saat matahari mulai bergerak kearah utara (uttarayana) dan pada saat mataharai mulai bergerak kearah selatan (dakşinayana), pada saat gerhana bulan, gerhana matahari, pada saat matahari tepat diatas katulistiwa; bila dilakukan pada saat-saat seperti itu, pahalanya luar biasa.

Dana punya patut diberikan kepada mereka sesuai sloka 187 śaraśmuscaya sbb :

caritrani  yathā rājan, ye kŗeśāh kŗśa  vŗttayah,

arthinaścopa  gacchanti, teşu dattain mahāphalam.

Artinya : Menganai yang patut dipersembahkan punya, mereka yang perilakunya mulia (Sulinggih/Pinandita, Sesepuh keluarga), mereka yang miskin, yang datang sangat memerlukan pertolongan; kepada mereka dana-punya sangatlah bermanfaat.

Mengenai jumlah yang harus di danapunyakan, diuraiakan dalam aSāra-samuccayà sloka 262 sbb:

ekenāmśena  dharmārthah, kartavya bhūti micchatā,

ekenāýśena kamārtha ekamamśamm  vivirddhayet.

Artinya: Perolehan seseorang tibagi tiga penggunaanya; sepertiga pertama untuk mensukseskan dharma, sepertiga kedua untuk dinikmati, sepertiga terakhir untuk mengembangkan agar perolehan selalu meningkat.

Di dalam ajaran agama Hindu, pelaksanaan dharma diuraikan dalam Wrhaspati tattva .26, dibagi menjadi tujuh bagian, yakni: Sila, yajña, tapa, dana, prawrajya, bhikşu, dan yoga.

Jadi bersarnya dana yang harus disisihkan untuk punya yaitu 33,33% dibagi 7 (wraspati tattva) yakni 4,757 % dan dibulatkan menjadi 5 %.

Dānamm vibhūşaņamm  nityamm  dānamm Durgāti-vāraņamm,

Dānamm  svargasya  sopānamm dānamm śakti-karamm Śivamm*

Keikhla

Admin