Category Archives: Warta Umat

Tumpek Landep 2

Tumpek Landep Siapa yang “Wetonan”
Oleh Mpu Jaya Prema Ananda

SETIAP datang Tumpek Landep, seperti hari ini, banyak orang pulang kampung. Niatnya bukan untuk bersembahyang di pura, tetapi mengadakan upacara otonan atau wetonan. Siapa yang wetonan? Ternyata mobilnya atau sepeda motornya. Tentu saja ini wetonan salah kaprah. wetonan itu sebenarnya hanya bagi manusia, peringatan untuk suatu kelahiran. Namun, wetonan motor sudah menjadi sebutan yang lumrah saat ini.

Kenapa harus pulang ke desa? Kalau niatnya cuma wetonan motor, di Pasar Badung atau Pasar Sanglah, banten ini sudah bisa dibeli secara lengkap, meskipun ada kurang-kurangnya kalau kita tahu soal banten. Tapi orang lebih sreg untuk pulang ke kampungnya. Motor dicuci bersih, kemudian diselimuti kain, diberi gegantungan, lalu diupacarai. Mobil juga diupacarai seperti itu, lihat saja hari ini di pinggir-pinggir jalan, banyak yang melakukannya.

Berapa banyakkah orang yang tahu, bagaimana menghaturkan puja ketika mengupacarai motor atau mobil itu? Tidak banyak. Itu yang membuat banyak anak-anak muda pulang ke kampungnya, karena tidak tahu harus berbuat apa untuk sepeda motornya. Jika ia tak sempat pulang, justru ia bingung: “Wah, Tumpek Landep, tak bisa pulang, beli banten bisa, tapi Dewa apa yang ada di motor itu?”

Asal-usul kenapa motor dan mobil sampai punya wetonan, berawal dari adanya komponen besi di dalamnya. Tumpek Landep selalu dikaitkan dengan mengupacarai segala benda yang terbuat dari besi. Padahal yang dimaksudkan besi itu terbatas pada persenjataan, dan itu pun yang dianggap bertuah dan keramat. Misalnya, keris, tombak, pedang, dan segala logam yang berfungsi sebagai pratima (benda suci) di pura. Belakangan, segala perabotan dari besi ikut diupacarai, seperti pahat, pisau, gergaji dan sebagainya. Di banyak tempat, para pengukir tak mau bekerja pada Tumpek Landep, karena peralatan kerjanya masih diupacarai.

Kebiasaan ini yang kemudian berkembang lebih jauh lagi. Sepeda motor, mobil, lalu menyusul peralatan kerja yang mengandung logam besi seperti alat-alat percetakan, komputer, dan sebagainya, ikut diberi sesajen. Bahkan banyak perusahaan yang bergerak di bidang percetakan melakukan piodalan pada saat Tumpek Landep.

Jika awalnya yang diupacara benda sakral berunsur besi, tentu tak ada yang salah kaprah. Tetapi kesalah-kaprahan itu berkembang karena semua unsur logam besi harus diupacarai, termasuk televisi, mesin cuci dan sebagainya. Padahal sejatinya, hari ini yang dipuja adalah Hyang Pasupati yang menajamkan kecerdasan berpikir kita setelah menerima ilmu pada Hari Saraswati dan sudah membentengi ilmu itu pada hari Pagerwesi. Pada Tumpek Landep inilah ilmu yang sudah diasah itu di-“pasupati” (dimohon kekuatan rohani).

Urutannya begini. Hari Saraswati memuja Dewa Brahma memohon agar Dewi Saraswati (sakti Beliau) menurunkan ilmunya ke dunia. Keesokan harinya, kita melakukan pembersihan rohani agar kita bisa menyerap ilmu itu dengan baik, yang disebut banyu pinaruh. Kitab Weda menyiratkan, dalam menimba ilmu harus dilakukan penyucian diri dengan asuci laksana. Bila badan dan pikiran suci, maka ilmu itu akan mampu merasuk ke dalam hati dengan baik.

Esoknya hari Senin disebut Somaribek, adalah proses pembelajaran. Esoknya lagi hari Selasa disebut Sabuhmas adalah hari untuk menghimpun (menabung) semua ilmu yang diperoleh. Kalau ilmu pengetahuan sudah cukup ditabung, maka resapi ilmu itu untuk benteng kehidupan pada hari Pagerwesi. Nah, hari-hari selanjutnya selama sepuluh hari adalah memproses ilmu yang diperoleh, dan pada saatnya kemudian, yakni pada Tumpek Landep, orang yang telah memperoleh ilmu melakukan pewintenan, alias wisuda untuk bahasa moderennya. Kita memohon kepada Hyang Pasupati, supaya kita punya ketajaman pikiran bagaikan keris dan tombak. Karena itu sesajen penting dalam Tumpek Landep selain pengeresikan (byakala, durmanggala, prayascita dan pengambean) adalah sesayut pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha.

Memang tidak ada yang salah kita menghaturkan sesajen di depan keris, tombak, mobil, televisi, komputer dan sebagainya. Semua itu posisikan sebagai “peralatan kerja”, karena itu sebaiknya hanya diberi sesajen dan diperciki tirtha. Bukan sembahyang di depan mobil, yang bisa menimbulkan salah paham, dikira kita “memuja mobil”. Justru yang lebih penting adalah diri kita sendirilah yang “diupacarai” di merajan atau pura, memuja Hyang Pasupati agar diberi kekuatan rohani, jadi bukan sembahyang di depan mobil. Tidak ada yang wetonan hari ini, yang ada mohon “kekuatan rohani” dan mensyukuri “peralatan kerja” yang kita punya seperti motor, mobil dan sebagainya. (*)

Anggota Tempek Utan Kayu

Tempek Utan Kayu, adalah salah satu dari 9 Tempek pengempon Pura Aditya Jaya Rawamangun yang berperan aktif dalam kegiatan pura baik dalam rangka piodalan maupun kegiatan-kegiatan lain. Berikut foto-foto anggota yang baru sebagian saja di upload.

I Made Suradnya (kiri); IB Oka Nila (tengah) I Putu Maharta Adijadnja (kanan)
I Gusti Ngurah Winarta (kiri); I Nyoman Teguh Prasidha (tengah) Dr. I Nengah Darna M.Kes (kanan)
I Made Untit (kiri); I Ketut Suda (tengah); I Made Tegik Swardaya (kanan)
Sang Nyoman Wisnu (kiri); AA Putu Aryadipa Yudhana (tengah); Dewa Made Adnya (kanan)
I Putu Suwijana (kiri); I Gusti Putu Saputra (tengah); I Ketut Bagiana (kanan)
I Made Wirayasa (kiri); AA Gede Rai Darmawan (tengah); Arifin Ngaspai (kanan)
Dewa Made Sujana (kiri); I Komang Wisastra (tengah); I Nyoman Artana (kanan)
IWayan Bagiartana (kiri); I Gusti Nyoman Widja; (tengah); I Ketut Widiana (kanan)

I WayanTinggi

Bersambung…..