All posts by adityatemple.net

Tumpek Landep 4

Om Suastiastu,

Hari ini umat Hindu merayakan Hari Tumpek Landep. (Sabtu 9 Juli 2016)

Tumpek merupakan pertemuan hari terakhir dari Sapta Wara (Redite, Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, dan Saniscara) dan Panca Wara (Umanis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon), yaitu Sanicara Kliwon. Ada enam Saniscara Kliwon (Tumpek) dalam setahun dan Tumpek Landep merupakan Tumpek pertama. Selanjutnya ada Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Klurut, Tumpek Uye, dan Tumpek Wayang.

Kata Landep mengandung arti runcing atau tajam. Secara sederhana, Tumpek Landep dapat dimaknai sebagai hari untuk memberi penghargaan/apresiasi terhadap benda-benda tajam yang telah banyak membantu kehidupan kita sebagai manusia. Sebagai bentuk apresiasi, umat Hindu pada hari ini membuat banten untuk dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi Wasa sebagai wujud rasa syukur yang mendalam karena telah tercipta benda-benda tajam/runcing yang dapat mempermudah kehidupan manusia. Benda-benda tajam itu dapat berupa pisau, gunting, atau benda-benda pusaka seperti keris, tombak, dan lain-lain.

Kenapa kita mesti memberi apresiasi terhadap benda-benda mati yang tidak bernyawa? Apakah benda-benda mati itu mengerti?

Hyang Widhi menciptakan alam semesta beserta isinya dan masuk merasuk ke dalam ciptaan-Nya, sehingga dalam setiap ciptaan-Nya, termasuk benda-benda mati, terdapat unsur dari Hyang Widhi. Sebagai contoh sederhana, rumah yang merupakan benda mati, jika tidak ditempati/ditinggali akan lebih mudah/cepat keropos dari pada rumah yang ditempati.

Apabila kita memberi penghargaan dan apresiasi kepada benda-benda tajam yang salah satu caranya adalah dengan membuat banten pada Hari Tumpek Landep, maka kita akan memancarkan energi positif kepada benda-benda itu. Dengan memancarkan energi positif, maka akan terjalin saling kasih di antara manusia dan benda-benda tajam tersebut. Dengan demikian, maka benda-benda tersebut akan semakin berguna bagi kehidupan manusia dan semakin memberikan dampak yang positif dalam mempermudah kehidupan manusia.

Lantas bagaimana kecenderungan sebagian umat Hindu yang memaknai Tumpek Landep sebagai otonan mobil, motor, dan peralatan lainnya yang tidak tajam? Apakah hal ini salah?

Seperti diuraikan di atas, ketika kita memberi apresiasi terhadap suatu benda, maka kita akan mengirimkan energi cinta kasih (positif) kepada benda itu. Hal yang sama akan terjadi ketika kita membuat banten yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi sebagai perwujudan rasa syukur karena kita memiliki benda-benda seperti motor dan mobil.

Bagi yang mengikuti tradisi ini, pagi-pagi sudah mencuci motor dan/atau mobilnya. Apalagi mencucinya dilakukan sendiri. Ketika mencuci mobil/motor, ada pancaran kasih sayang dari kita kepada mobil/motor, sehingga relasi kita semakin baik dengan alat transportasi tersebut. Tentu hal ini membawa dampak yang positif ke depannya bagi keamanan dan keselamatan kita dalam menggunakan alat transportasi tersebut.

Dengan adanya tradisi untuk memberi apresiasi kepada sesuatu diluar manusia, hal ini akan menumbuhkan semakin banyak modal bagi diri manusia untuk memberi apresiasi kepada sesama manusia. Hal ini sesuai dengan ajaran Upeksa dalam Catur Paramita yang mengajarkan kita untuk memberikan penghargaan kepada orang lain. Kalau kita sudah terbiasa memberikan penghargaan kepada sesuatu selain manusia, maka memberi penghargaan kepada manusia bukan lagi sesuatu yang sulit, tetapi dengan mudahnya kita bisa memberikan penghargaan kepada sesama manusia.

Adakah makna lain dari perayaan Tumpek Landep?

Kalau duhubungkan dengan rangkaian Hari Saraswati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan yang kita rayakan dua minggu yang lalu dan Hari Raya Pagerwesi yang kita rayakan sepuluh hari yang lalu, maka kita bisa memaknainya sebagai sebuah komitmen kehadapan Hyang Widhi bahwa ilmu pengetahuan yang sudah kita peroleh hendaknya terus kita asah secara berkesinambungan agar senantiasa pikiran kita tajam dalam mencermati sesuatu, sehingga kita senantiasa bijak dalam mengambil sebuah keputusan.

Mari kita terus-menerus pertajam (landep) pikiran kita dengan cara belajar secara kontinyu agar kita bisa memberikan segala sesuatu yang terbaik kepada kehidupan ini melalui peran kita masing-masing.

Selamat merayakan Hari Tumpek Landep.

Om Santi Santi Santi Om

Salam berkelimpahan bahagia,

I Nyoman Widia

Tumpek Landep 3

Tumpek Landep
Oleh: Alm Ida Pedanda Gede Made Gunung

Tumpek Landep dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep.

Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam.

Jadi dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran).

Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama.

Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk

Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu.

Jadi setelah mempertingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunya ilmu pengetahuan, maka setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati.

Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi.

Namun seiring perkembangan jaman, makna tumpek landep menjadi bias dan semakin menyimpang dari makna sesungguhnya.

Sekarang ini masyarakat justru memaknai tumpek landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi.

Sesungguhnya ini sangat jauh menyimpang.

Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitik beratkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta.

Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan.

Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.

Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.

Tumpek landep adalah tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran – ajaran agama. Pada rerainan tumek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.

Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur.

Bagi para seniman, tumpek landep dirayakan sebagai pemujaan untuk memohon taksu agar kesenian menjadi lebih berkembang, memperoleh apresiasi dari masyarakat serta mampu menyampaikan pesan – pesan moral guna mendidik dan mencerdaskan umat.

Jadi sekali lagi ditegaskan, Tumpek Landep bukan rerainan untuk mengupacarai motor, mobil ataupun perabotan besi, tetapi lebih menekankan kepada kesadaran untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta untuk kesejahteraan umat manusia.

Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep mengupacarai motor, mobil dan sebagainya sebagai bentuk syukur namun itu adalah nilai tambahan saja.

Jangan sampai perayaan rerainan menitik beratkan pada nilai tambahan namun melupakan inti pokok dari rerainan tersebut.

Tumpek Landep 2

Tumpek Landep Siapa yang “Wetonan”
Oleh Mpu Jaya Prema Ananda

SETIAP datang Tumpek Landep, seperti hari ini, banyak orang pulang kampung. Niatnya bukan untuk bersembahyang di pura, tetapi mengadakan upacara otonan atau wetonan. Siapa yang wetonan? Ternyata mobilnya atau sepeda motornya. Tentu saja ini wetonan salah kaprah. wetonan itu sebenarnya hanya bagi manusia, peringatan untuk suatu kelahiran. Namun, wetonan motor sudah menjadi sebutan yang lumrah saat ini.

Kenapa harus pulang ke desa? Kalau niatnya cuma wetonan motor, di Pasar Badung atau Pasar Sanglah, banten ini sudah bisa dibeli secara lengkap, meskipun ada kurang-kurangnya kalau kita tahu soal banten. Tapi orang lebih sreg untuk pulang ke kampungnya. Motor dicuci bersih, kemudian diselimuti kain, diberi gegantungan, lalu diupacarai. Mobil juga diupacarai seperti itu, lihat saja hari ini di pinggir-pinggir jalan, banyak yang melakukannya.

Berapa banyakkah orang yang tahu, bagaimana menghaturkan puja ketika mengupacarai motor atau mobil itu? Tidak banyak. Itu yang membuat banyak anak-anak muda pulang ke kampungnya, karena tidak tahu harus berbuat apa untuk sepeda motornya. Jika ia tak sempat pulang, justru ia bingung: “Wah, Tumpek Landep, tak bisa pulang, beli banten bisa, tapi Dewa apa yang ada di motor itu?”

Asal-usul kenapa motor dan mobil sampai punya wetonan, berawal dari adanya komponen besi di dalamnya. Tumpek Landep selalu dikaitkan dengan mengupacarai segala benda yang terbuat dari besi. Padahal yang dimaksudkan besi itu terbatas pada persenjataan, dan itu pun yang dianggap bertuah dan keramat. Misalnya, keris, tombak, pedang, dan segala logam yang berfungsi sebagai pratima (benda suci) di pura. Belakangan, segala perabotan dari besi ikut diupacarai, seperti pahat, pisau, gergaji dan sebagainya. Di banyak tempat, para pengukir tak mau bekerja pada Tumpek Landep, karena peralatan kerjanya masih diupacarai.

Kebiasaan ini yang kemudian berkembang lebih jauh lagi. Sepeda motor, mobil, lalu menyusul peralatan kerja yang mengandung logam besi seperti alat-alat percetakan, komputer, dan sebagainya, ikut diberi sesajen. Bahkan banyak perusahaan yang bergerak di bidang percetakan melakukan piodalan pada saat Tumpek Landep.

Jika awalnya yang diupacara benda sakral berunsur besi, tentu tak ada yang salah kaprah. Tetapi kesalah-kaprahan itu berkembang karena semua unsur logam besi harus diupacarai, termasuk televisi, mesin cuci dan sebagainya. Padahal sejatinya, hari ini yang dipuja adalah Hyang Pasupati yang menajamkan kecerdasan berpikir kita setelah menerima ilmu pada Hari Saraswati dan sudah membentengi ilmu itu pada hari Pagerwesi. Pada Tumpek Landep inilah ilmu yang sudah diasah itu di-“pasupati” (dimohon kekuatan rohani).

Urutannya begini. Hari Saraswati memuja Dewa Brahma memohon agar Dewi Saraswati (sakti Beliau) menurunkan ilmunya ke dunia. Keesokan harinya, kita melakukan pembersihan rohani agar kita bisa menyerap ilmu itu dengan baik, yang disebut banyu pinaruh. Kitab Weda menyiratkan, dalam menimba ilmu harus dilakukan penyucian diri dengan asuci laksana. Bila badan dan pikiran suci, maka ilmu itu akan mampu merasuk ke dalam hati dengan baik.

Esoknya hari Senin disebut Somaribek, adalah proses pembelajaran. Esoknya lagi hari Selasa disebut Sabuhmas adalah hari untuk menghimpun (menabung) semua ilmu yang diperoleh. Kalau ilmu pengetahuan sudah cukup ditabung, maka resapi ilmu itu untuk benteng kehidupan pada hari Pagerwesi. Nah, hari-hari selanjutnya selama sepuluh hari adalah memproses ilmu yang diperoleh, dan pada saatnya kemudian, yakni pada Tumpek Landep, orang yang telah memperoleh ilmu melakukan pewintenan, alias wisuda untuk bahasa moderennya. Kita memohon kepada Hyang Pasupati, supaya kita punya ketajaman pikiran bagaikan keris dan tombak. Karena itu sesajen penting dalam Tumpek Landep selain pengeresikan (byakala, durmanggala, prayascita dan pengambean) adalah sesayut pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha.

Memang tidak ada yang salah kita menghaturkan sesajen di depan keris, tombak, mobil, televisi, komputer dan sebagainya. Semua itu posisikan sebagai “peralatan kerja”, karena itu sebaiknya hanya diberi sesajen dan diperciki tirtha. Bukan sembahyang di depan mobil, yang bisa menimbulkan salah paham, dikira kita “memuja mobil”. Justru yang lebih penting adalah diri kita sendirilah yang “diupacarai” di merajan atau pura, memuja Hyang Pasupati agar diberi kekuatan rohani, jadi bukan sembahyang di depan mobil. Tidak ada yang wetonan hari ini, yang ada mohon “kekuatan rohani” dan mensyukuri “peralatan kerja” yang kita punya seperti motor, mobil dan sebagainya. (*)

Tumpek Landep 1

Inputbali,- Bali merupakan sebuah pulau yang memiliki seribu pura, tradisi dan budaya yang saling mengisi dan melengkapi dengan ajaran agama Hindu. Bagi wargaBali yang mayoritas Hindu memiliki sebuah tradisi yang dinamakan Tumpek Landep. Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Hari raya Tumpek Landep sendiri merupakan rentetan setelah hari raya saraswati, dimana pada hari ini umat hindu melakukan puji syukur atas berkah yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati.

Makna Tumpek Landep

Hari raya tumpek landep jatuh setiap Saniscara/hari sabtu Kliwon wuku Landep, sehingga secara perhitungan kalender Bali, hari raya ini dirayakan setiap 210 hari sekali. Kata Tumpek sendiri berasal dari “Metu” yang artinya bertemu, dan “Mpek” yang artinya akhir, jadi Tumpek merupakan hari pertemuan wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, dimana Panca Wara diakhiri oleh Kliwon dan Sapta Wara diakhiri oleh Saniscara (hari Sabtu). Sedangkan Landep sendiri berarti tajam atau runcing, maka dari ini diupacarai juga beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti keris.

Dewasa kini, senjata lancip itu sudah meluas pengertiannya. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda hasil cipta karsa manusia yang dapat mempermudah hidup seperti sepeda motor, mobil, mesin, komputer dan sebagainya. Benda-benda itulah yang diupacarai. Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh disalah artikan, dalam konteks itu umat bukanlah menyembah benda-benda teknologi, tetapi umat memohon kepada Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati yang telah menganugerahkan kekuatan pada benda tersebut  sehingga betul-betul mempermudah hidup.

Filosofi Tumpek Landep

Dalam Tumpek Landep, Landep yang diartikan tajam mempunyai filosofi yang berarti bahwa  Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Tumpek landep merupakan tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran – ajaran agama. Pada rerainan tumpek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur.

Menurut Dharma Wacana dari Ida Pedanda Gede Made Gunung, Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.

Jadi bisa disimpulkan menurut pendapat kami bahwa Pada Rahina Tumpek Landep hal yang paling utama yang tidak boleh dilupakan ialah hendaknya kita selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan kita dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan serta mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.

(sumber: Ida Pedanda Gede Made Gunung, Hindu Nusantara)